Perlahan, sangat perlahan, Daniel mulai menekan pinggulnya ke depan. Otot cincin Ayu meregang paksa; sebuah sensasi perih yang menyengat seketika menjalar."Argh!" Ayu memekik, tubuhnya menegang refleks.Daniel berhenti. Ia tidak menarik keluar, tapi juga tidak memaksa lebih dalam. Ia hanya membiarkan ujungnya tertanam di sana. Tangan besarnya turun mencengkeram pinggul Ayu, menahannya agar tidak kabur."Tarik napas ... buang," perintah Daniel tegas di telinga Ayu. "Rileks, Yu. Terima dia."Ayu berusaha mengatur napasnya yang kacau. Rasa perih itu nyata. Rasanya seolah tubuhnya sedang dibelah. Inikah yang kamu rasakan, Rangga? batinnya menjerit. Sakit ini yang kamu cari?Namun, seiring detik berlalu, rasa perih tajam itu mulai bergeser menjadi rasa penuh yang absolut. Tubuh Ayu, dengan keajaiban adaptasi biologisnya, mulai menerima intrusi itu. Daniel merasakan otot Ayu sedikit melunak, memberinya izin."Pintar," puji Daniel. Ia menekan lagi, kali ini melesakkan separuh miliknya ke da
ปรับปรุงล่าสุด : 2026-02-11 อ่านเพิ่มเติม