Dengan satu gerakan yang tenang namun berani, Maya mulai membuka sabuk celana Arion—Tiba-tiba tangan Arion bergerak refleks.Bukan kasar. Tidak menolak dengan keras. Hanya spontan, seperti seseorang yang disentuh saat berada di antara sadar dan mimpi.Jemarinya terangkat dan mencengkeram lembut rambut Maya.“May…” suaranya parau, berat oleh kantuk dan kelelahan.Maya berhenti. Tangannya membeku di tempatnya. Ia mendongak perlahan, menatap wajah Arion yang kini membuka mata setengah.“Nanti saja,” lanjut Arion pelan, napasnya masih tidak stabil. “Aku mau tidur dulu.”Ada jeda.“Kamu ini kebiasaan,” gumamnya lemah, hampir seperti keluhan yang diselipi senyum tipis.Maya menahan napas sejenak. Biasanya, Arion tidak pernah menolak. Biasanya, ia akan menariknya tanpa banyak kata, menjadikan sentuhan sebagai pelarian dari beban yang tidak ingin dibicarakan.Hari ini berbeda.“Kamu yakin?” tanya Maya lirih, bukan tersinggung—lebih seperti memastikan.Arion mengangguk kecil, masih memegang ke
Terakhir Diperbarui : 2026-02-17 Baca selengkapnya