Arka duduk di balkon rumahnya, rokok menyala di sela jari, tapi tidak benar-benar dihisap. Api di ujungnya dibiarkan menyusut sendiri, seperti pikirannya yang berputar tanpa arah.Lampu-lampu kota di kejauhan berkelip, dingin, tak peduli.Aku bisa saja mendapatkan Shana tadi, Arion, gumamnya dalam hati, bibirnya melengkung tipis.Terlalu mudah, malah.Ia menepuk dadanya pelan, seolah menenangkan dirinya sendiri.Tapi aku nggak mau tubuhnya.Aku mau hatinya.Arka terkekeh lirih.Nggak kayak lo.Rahangnya mengeras.Lo cuma penikmat tubuh. Datang, sentuh, buang. Semua wanita sama di mata lo.Asap tipis keluar dari hidungnya.“Bodoh,” bisiknya. Entah ditujukan pada Arion… atau dirinya sendiri.Tiba-tiba alisnya berkerut.Ada sesuatu yang tidak pas.Arka melirik jam di ponselnya. Hampir tengah malam.Harusnya… sudah sampai.Ia duduk lebih tegak.Kemana perginya Shana?Tangannya refleks meraih ponsel. Ia membuka chat—tidak ada balasan. Ia menekan tombol panggil.Nomor yang Anda tuju sedang t
Terakhir Diperbarui : 2026-01-19 Baca selengkapnya