Lampu ruang keluarga menyala temaram, kuningnya jatuh lembut di dinding-dinding yang dipenuhi foto lama. Ayah Arion duduk di sofa panjang, kemeja rumahnya sudah diganti kaus tipis, kacamata baca bertengger rendah di batang hidung. Di tangannya, koran sore yang tak benar-benar ia baca sejak lima menit lalu.Ibu Shana duduk tak jauh darinya, menyilangkan kaki dengan anggun, secangkir teh hangat mengepul pelan di jemarinya. Aroma melati samar memenuhi ruangan.“Arion makin jarang pulang,” ujar sang ayah tanpa menoleh, suaranya datar, seolah hanya mencatat cuaca.Ibu Shana mengangguk kecil. “Anak seusia dia memang begitu. Dunia rasanya luas sekali. Kadang lupa… rumah juga butuh diingat.”Ia menyesap tehnya, lalu menaruh cangkir itu perlahan, nyaris tanpa suara.“Dia kerja keras,” lanjut sang ayah. “Terlalu keras, malah. Aku kadang khawatir dia cuma tahu maju, tapi lupa berhenti.”“Berhenti itu penting,” jawab Ibu Shana ringan. “Bukan cuma buat istirahat. Tapi buat melihat siapa yang ada d
Terakhir Diperbarui : 2026-01-23 Baca selengkapnya