Telepon itu terasa lebih berat daripada seharusnya.Shana duduk di tepi ranjang, punggungnya bersandar ke dinding, jari-jarinya mencengkeram ponsel seperti sedang memegang sesuatu yang rapuh. Kipas angin di sudut kamar berputar malas. Cahaya siang menembus tirai tipis, jatuh tepat di lantai—terang, jujur, dan sama sekali tidak peduli pada kekacauan di kepala Shana.“Cerita tentang siapa?” ulang Shana, suaranya tenang, terlalu tenang.Di seberang sana, Rika menghela napas. Bukan napas gugup. Lebih seperti seseorang yang sudah lama memutuskan, dan akhirnya menekan tombol kirim.“Arion.”Nama itu menggantung di udara beberapa detik, seperti debu yang enggan jatuh.Shana tidak langsung menjawab. Ia berdiri, berjalan ke jendela, menyingkap tirai sedikit. Siang di luar terlihat normal—orang lewat, motor melintas, dunia tidak berhenti hanya karena satu nama disebutkan.“Aku dengar,” kata Shana akhirnya, “tapi aku nggak janji mau percaya.”“Itu adil,” jawab Rika cepat. “Aku juga nggak minta k
Last Updated : 2026-01-05 Read more