Pagi itu, suasana di ruang makan terasa sangat kaku. Sean hanya diam sambil menyesap kopi arabica-nya, sementara Elyssa berusaha menikmati sandwich miliknya, meski suasana hatinya tidak baik.Elyssa merasa ada yang tidak beres. Biasanya Sean selalu hangat dan banyak bicara, tapi pagi ini tunangannya itu benar-benar dingin. Karena tidak tahan dengan keheningan yang mencekam, Elyssa akhirnya membuka suara."Mas, kamu kenapa sih? Dari tadi diam aja. Ada masalah di kantor?" tanya Elyssa, mencoba mencairkan suasana.Bukannya menjawab, Sean justru merogoh saku kemejanya. Ia mengeluarkan sesuatu dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan piring Elyssa. Sebuah kuku manusia dengan bercak darah kering yang sudah menghitam."Aku minta kamu jelasin ini," ucap Sean dengan nada datar yang menusuk.Elyssa tersentak, matanya membelalak melihat benda itu. Ia sempat terdiam sejenak sebelum bertanya dengan suara bergetar, "Itu... kamu dapat dari mana?""Di tas kamu, kemarin saat kita pilih cincin," j
Last Updated : 2025-12-29 Read more