Kenzi terpaku. Di tengah riuh tepuk tangan dan hamburan confetti yang jatuh di rambutnya, ia tidak bisa memalingkan wajah dari sosok pria di barisan depan. Pria itu mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang sangat mahal, berdiri tepat di samping ayahnya sambil tersenyum tipis ke arah panggung."Kenapa, Zi? Tegang gitu mukanya, kayak lihat hantu,” bisik Kenza pelan, menyenggol lengan Kenzi agar adiknya sadar mereka masih jadi pusat perhatian.Kenzi tidak menjawab. Jantungnya berdegup kencang. Ia ingat betul siapa pria itu— pria yang pernah jalan bersamanya, menghabiskan waktu semalaman sebagai sepasang kekasih dan berakhir asing di pagi harinya."Ayo, turun. Papa sudah kasih kode," tarik Kenza pelan.Begitu mereka turun dari tangga panggung, pria itu langsung melangkah mendekat sebelum Sean sempat membuka suara."Selamat ulang tahun, Kenza, Kenzi," sapa pria itu dengan suara berat yang tenang namun berwibawa. Ia mengulurkan tangan, menatap Kenzi dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Last Updated : 2026-02-21 Read more