Beberapa menit sebelumnya, Ruang HR terasa dingin meski pendingin ruangan tidak disetel terlalu rendah.Felisha duduk tegak di salah satu kursi, kedua tangannya terlipat rapi di atas pangkuan. Di sebelahnya, Lisa dan dua rekannya duduk berdekatan—terlihat tenang, bahkan terlalu tenang.Di balik meja, Almira menatap berkas di tangannya. Wajahnya datar, profesional, namun sorot matanya jelas lebih sering beralih ke arah Lisa.“Jadi,” ujar Almira akhirnya, “menurut laporan yang aku terima, terjadi cekcok di toilet wanita. Namun tidak ada bukti fisik yang mendukung klaim-mu, Felisha.”Ia melirik pakaian Felisha dari atas ke bawah. Bersih. Rapi. Tidak ada noda.“Kalau benar kau disiram air comberan, seharusnya ada bekasnya,” lanjut wanita berhijab itu.Lisa menunduk sedikit, menyembunyikan senyum puas. Teman-temannya saling pandang, nyaris tak bisa menahan rasa lega.Felisha mengangkat wajahnya. Tatapannya tenang, meski napasnya sedikit lebih berat.“Karena aku melindungi diri dengan payun
Read more