Felisha masih terlihat kesal sekaligus sedih ketika mereka tiba di depan apartemennya. Pikiran gadis itu belum sepenuhnya lepas dari sosok Rashed yang menurutnya licik—terlebih karena Ace justru meladeni permainan pria itu. “Kita sudah sampai, Nona Felisha. Ayo, obati lukaku,” ujar Ace ringan, penuh godaan. Ia tahu Felisha sedang kesal, tetapi tetap menikmati reaksinya. “Ayo turun!” perintah Felisha setengah ketus sambil membuka pintu mobil. Ace terkekeh kecil melihat sikapnya, lalu ikut turun. Untuk pertama kalinya ia melangkahkan kaki ke apartemen baru itu. Suasananya sederhana, tenang—sangat khas dengan karakter Felisha. Tidak banyak perabotan. Hanya ada kasur, sofa kecil, lemari pakaian, dan meja komputer. Tidak ada kemewahan, hanya ruang yang terasa jujur dan apa adanya. “Duduklah,” ucap Felisha, memberi isyarat agar Ace menempati sofa. Kali ini nadanya lebih pelan. Sementara Ace duduk, Felisha mencari kotak P3K. Ia kembali dan mulai membersihkan sudut bibir pria itu dengan
Dernière mise à jour : 2026-02-17 Read More