Guan tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekat pada Yuki, cukup dekat hingga bau alkohol samar dari tubuh pria itu tercium jelas. Matanya menyipit, menimbang-nimbang, seperti pedagang yang sedang menghitung untung rugi."Mulutmu selalu beracun," ucap Guan pelan, nyaris berbisik. "Kau bicara soal manusia, bukan barang."Yuki terkekeh, sama sekali tak tersinggung. Ia justru menyandarkan tubuhnya santai ke sisi van."Di dunia kita, apa bedanya?" sahutnya ringan. "Selama ada yang mau bayar mahal."Guan terdiam. Pandangannya kembali tertuju ke jalanan kosong di depan apartemen. Amarahnya pada Felisha belum surut, tapi tawaran Yuki jelas membuka pintu yang lebih besar-lebih kotor, lebih menguntungkan."Katamu dia cantik seperti ibunya," lanjut Yuki, suaranya direndahkan. "Dan masih muda. Barang seperti itu selalu dicari. Apalagi kalau tak punya siapa-siapa yang benar-benar melindungi."Kata-kata itu menancap dalam benak Guan. Bibirnya mengeras, rahangnya mengatup kuat. Ia membayangkan wa
Dernière mise à jour : 2026-01-14 Read More