Alex berdiri tegak di ujung meja, sorot matanya menyapu ruangan satu per satu. Tidak ada kepanikan di wajahnya, hanya kewaspadaan yang dingin dan terkontrol. “Semua tetap di posisi,” perintahnya pelan, tapi cukup tajam untuk membuat seluruh orang di markas patuh. “Nggak ada yang bergerak tanpa aba-aba.” Joni memberi isyarat cepat. Dua anak buah di dekat pintu besi langsung menutup rapat akses utama, sementara yang lain menyebar, menempati sudut-sudut strategis. Suara klik senjata terdengar samar, tidak ditunjukkan, tapi siap digunakan. Marco mengamati semua itu dengan ketertarikan tersendiri. Ia tidak bangkit, bahkan terlihat santai menyandarkan siku di sandaran kursi. “Diserang di rumah sendiri,” katanya ringan. “Atau ini bagian dari rencanamu?” Alex menoleh, menatap Marco sekilas. “Kalau ini rencana gue, lo nggak bakal duduk senyaman itu.” Belum sempat Marco membalas, suara dari luar terdengar langkah kaki cepat, teredam, diikuti bunyi logam bergesek. Ada seseorang mencoba me
Last Updated : 2026-01-22 Read more