Início / Mafia / Belenggu Cinta Sang Don Juan / Bab 100 Alexei Melakukan Itu?

Compartilhar

Bab 100 Alexei Melakukan Itu?

Autor: Silentia
last update Última atualização: 2025-12-30 21:18:39

Depresi tidak datang dengan jeritan. Ia datang dengan diam yang terlalu panjang.

Katerina berhenti berbicara pada hari ketiga. Para penjaga menyadarinya bukan dari teriakannya, melainkan dari cara dia menatap dinding tanpa benar-benar melihat apa pun, makanan dibiarkan dingin, dan air tidak disentuh. Tubuhnya ada, tetapi jiwanya seakan mundur beberapa langkah ke belakang, bersembunyi di tempat yang tidak bisa dijangkau perintah atau ancaman.

Alexei menerima laporan itu tanpa ekspresi. “Biarkan,” katanya singkat. “Pastikan dia bernapas.”

Tidak ada empati di kalimat itu, hanya perhitungan. Depresi, bagi orang-orang seperti mereka, bukan kelemahan. Itu adalah fase. Tekanan yang jika tidak mematikan, akan memadatkan seseorang menjadi senjata yang jauh lebih berbahaya. Alexei tahu itu. Ia menunggu Katerina siap untuk ia pakai mengancam orang-orang.

Namun kabar seperti ini tidak pernah tinggal di satu tempat terlalu lama.

Di Balkan, jauh dari dinding batu dan lampu minyak bawah tanah Alexe
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 110 Pergi Sebelum Aku Berubah Pikiran

    Kediaman Alexei masih berbau asap dan besi. Api sudah dipadamkan, mayat-mayat telah diseret ke lorong servis, dan darah di lantai marmer ditutup sementara dengan karpet gelap. Dunia hitam tidak mengenal pemakaman. Ia hanya mengenal pembersihan.Alexei berdiri di ruang kendali bawah tanah, jaketnya terbuka, pistol masih tergantung di tangannya meski magasin sudah kosong. Layar-layar di hadapannya menampilkan potongan kamera yang mati satu per satu, mulai terowongan runtuh, jalur lama hilang, jejak yang sengaja dihapus.Ia tidak marah. Kemarahan adalah kemewahan bagi orang bodoh. Ia hanya diam, terlalu diam, dan itu membuat semua orang di ruangan itu menahan napas.“Putar ulang segmen timur,” katanya akhirnya.Operator menelan ludah, jarinya bergerak cepat. Gambar buram muncul kemudian kabut asap, siluet orang-orang Korolev yang bergerak cepat, lalu satu sosok yang tidak salah lagi.Mikhail. Dia berdiri di persimpangan terowongan, bahunya menghalangi jalur, tubuhnya menjadi dinding hidu

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 109 Keluargamu Sudah Mati

    Terowongan tua itu menelan mereka seperti kerongkongan binatang purba, sempit, lembap, dan berbau besi tua bercampur darah yang belum kering. Lampu darurat berkelip malas, memantulkan bayangan patah-patah pada dinding batu. Katerina bergerak di tengah barisan, langkahnya cepat tapi terukur. Satu tangan menggenggam pistol, tangan lain menahan nyeri di rusuknya. Setiap tarikan napas mengingatkannya pada harga yang baru saja dibayar untuk kebebasan.“Cepat,” bisik salah satu pria di depan. “Gerbang sekunder lima puluh meter.”Mereka hampir berhasil. Alexei tidak bisa mengejar karena reruntuhan menutup jalur utama. Anak buah Korolev yang tersisa bergerak dalam formasi rapat, menutup tubuh Katerina dengan disiplin yang lahir dari tahun-tahun hidup dalam pengkhianatan. Mereka tidak berbicara. Dunia hitam selalu mengutamakan diam dan bertahan.Katerina menelan ludah. Kepalanya berdenyut. Wajah-wajah mati menumpuk di benaknya, ayahnya, pamannya, nama-nama yang kini hanya tinggal ukiran di ba

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 108 Membunuh Sebanyak Mungkin Sebelum Mereka Pergi

    Di sisi kota yang lain, hampir pada detik yang sama ketika darah Ivan Korolev mengering di lantai beton milik Drazhan, kediaman Alexei berubah menjadi medan perang.Tidak ada ledakan besar. Mereka langsung menyerang tanpa aba-aba. Serangan itu senyap, presisi, dan kejam.Lampu halaman padam satu per satu, bukan karena listrik mati, melainkan karena leher para penjaga dipatahkan dalam gelap. Gerbang besi terbuka tanpa suara, kode lama yang seharusnya sudah mati ikut hidup kembali. Orang-orang Korolev bergerak seperti bayangan, tidak berteriak, tidak panik. Mereka datang untuk satu tujuan, menebus kegagalan dengan darah Alexei dan menyelamatkan Katerina.Alexei terbangun bukan oleh suara tembakan, melainkan oleh insting. Ia sudah berdiri saat peluru pertama menghantam kaca jendela kamar kerjanya. Tubuhnya bergerak cepat, mengambil pistol dari laci rahasia, lalu menyelinap ke balik dinding baja.“Kontak,” ucapnya datar ke alat komunikasi di telinganya. “Jumlah besar. Mereka tahu denah ru

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 107 Mahkota Kekuasaan Itu Selalu Haus Darah

    Dinding batu di penjara bawah tanah sebelah timur terbelah seperti luka lama yang dipaksa terbuka kembali. Api menyembur, asap hitam menjilat langit fajar, dan suara alarm manual akhirnya meraung, bukan karena sistem, melainkan karena darah pertama telah tumpah.Drazhan sudah bergerak sebelum gema ledakan mereda. Ia menarik Alessia ke balik dinding baja, menekan bahunya ke sudut aman yang hanya diketahui tiga orang di dunia ini. “Tetap di sini. Apa pun yang kamu dengar, jangan keluar,” perintahnya dingin dan mutlak.“Apa yang terjadi?” tanya Alessia, matanya tajam meski jantungnya berdegup keras.“Kesalahan lama,” jawab Drazhan singkat. “Anak buah Korolev bangkit lagi.” Ia berbalik, meraih senapan otomatis dari rak tersembunyi. Wajahnya kini sepenuhnya berubah, tidak ada sisa pria yang semalam berjanji perlindungan dengan bisikan. Yang berdiri saat ini adalah Raja Mafia Balkan, pemilik tanah, darah, dan ketakutan.Rafael muncul dari koridor dengan wajah berlumur darah orang lain. “Mer

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 106 Hati-hati dengan Apa yang Kamu Minta

    Malam menutup kediaman itu rapat-rapat, seperti sekutu setia yang menjaga rahasia di kamar bernuansa hitam milik Drazhan, waktu seolah melambat, memberi ruang bagi sesuatu yang jarang ia izinkan hadir, yaitu sebuah kelembutan.Drazhan bergerak dengan kehati-hatian yang nyaris asing baginya. Tangan yang biasanya memberi perintah eksekusi kini menelusuri bahu Alessia seakan dia benda rapuh yang bisa pecah jika disentuh terlalu keras. Tatapannya tidak lagi tajam seperti pisau, melainkan pekat seperti malam yang memilih untuk memeluk, bukan menelan.“Aku tidak akan menyakitimu,” katanya rendah. Itu bukan janji yang diucapkan sembarang dari mulut pria sepertinya, kalimat itu adalah sumpah paling mahal.Alessia meraih wajah Drazhan, memaksanya menatap. Ada keberanian di sana, juga kepercayaan yang diberikan tanpa syarat. Drazhan merasakan sesuatu runtuh di dadanya, bukan kelemahan, melainkan tembok yang selama ini ia banggakan. Ia memang sudah kalah, ia mencintai Alessia terlalu dalam. Me

  • Belenggu Cinta Sang Don Juan   Bab 105 Kamu Yakin Akan Melakukan Ini?

    Alessia menyusuri lorong dengan langkah ragu namun tekad yang perlahan mengeras. Setiap pijakan terasa lebih sunyi dari sebelumnya, seolah rumah itu menahan napas, menunggu sesuatu yang tak terucap. Ia tahu ke mana harus pergi, meski bagian dirinya masih menyangkal alasan kenapa.Kamar pribadi Drazhan berdiri di ujung lorong, lebih gelap dari pintu-pintu lain. Ia mendorongnya perlahan pintu kamar itu. Suasana langsung berbeda. Ruangan itu seperti bayangan dari pemiliknya. Dominasi warna hitam dan abu gelap memenuhi setiap sudut, dinding, perabot, dan tirai tebal yang menutup jendela besar. Aroma maskulin langsung menyergap indera penciumannya. Bau campuran cerutu mahal, alkohol tua, dan sesuatu yang lebih dalam, bau kekuasaan yang tak bisa ditiru memenuhi ruangan itu. Lampu temaram menggantung rendah, memantulkan kilau redup pada botol-botol kristal di rak dan senjata yang tersusun rapi, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pernyataan.Drazhan berdiri membelakangi pintu, satu tang

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status