Di kamar itu, cahaya lampu kuning jatuh lembut ke wajah Alessia. Jantungnya masih berdebar tak karuan. Ia tahu apa yang akan terjadi, namun yang membuatnya sulit bernapas bukan ketakutan, melainkan kenyataan bahwa ia akhirnya mengambil langkah besar dalam hidupnya.Drazhan berdiri di depannya, tidak lagi membawa amarah perang atau aura predator yang selalu membuat orang bertekuk lutut. Malam ini, mata itu lebih tenang, lebih hangat, ada intensitas, ada keinginan, tapi dibungkus kendali yang kuat, demi dirinya.“Kalau kamu merasa tidak siap, katakan saja,” ucap Drazhan pelan. “Aku tidak akan menyentuhmu sampai kamu benar-benar menginginkannya.”Alessia menatapnya. “Aku sudah bilang aku siap.”Drazhan mendekat beberapa langkah. Jemarinya menyentuh pipi Alessia. Namun, ia menyadari tubuh Alessia bergetar. “Takut?” tanyanya pelan.“Cemas,” jawab Alessia jujur.Drazhan menunduk sedikit, menempelkan dahinya ke dahi Alessia. Gerakan sederhana itu saja sudah membuat seluruh tubuh Alessia mele
Last Updated : 2025-12-01 Read more