BRAK. Pintu kamar terbuka keras, hampir membentur dinding. Aldean menerobos masuk lebih dulu, wajahnya tegang dan napasnya berat. Sementara itu, Evan berdiri di ambang pintu, ragu untuk ikut masuk. Tempat tidur tampak rapi, dan Celine tak terlihat di sana. Jantung Aldean seketika terasa seperti copot. Tatapannya langsung tertuju ke pintu kamar mandi. “Cel…?” panggilnya, suaranya merendah namun penuh tekanan. Tok. Tok. Ia mengetuk pintu dengan punggung jarinya, cepat dan gelisah. “Celine,” panggilnya lagi, kali ini lebih keras. “Kamu nggak apa-apa?” Tidak ada jawaban. Hening yang mengikuti terasa memekakkan. Aldean mengetuk pintu lagi. Kali ini terdengar lebih keras, lebih panik. “Celine!” seru Aldean, kehilangan kendali. “Cel, jawab aku!” Keheningan itu membuat udara dalam kamar ikut membeku. Rahang Aldean mengencang, tangannya sudah menggenggam gagang pintu, siap menerobos—siap menghancurkan batasan jika itu satu-satunya cara memastikan Celine selamat. “Cel…”
Last Updated : 2025-11-17 Read more