Celine duduk di seberang Aldean, meletakkan segelas jus jeruk dan piringnya sendiri sambil tersenyum kecil. “Om, makan pelan-pelan, ya. Masih panas.” Aldean mengangguk lalu mengambil potongan sandwich pertama. Aroma gurihnya menguar, tapi bukan itu yang membuat tenggorokannya terasa mengganjal, melainkan karena ada seseorang yang akhirnya menyiapkan sarapan untuknya.Setelah bertahun-tahun… rasanya aneh. Ya, aneh tapi hangat. Celine memperhatikan reaksi Aldean, penuh harap. “Gimana rasanya?”Aldean mengunyah perlahan. “Enak.” Matanya menatap Celine sedikit lebih lama dari biasanya. “Banget,” tambahnya, membuat pipi Celine langsung merona.“Ih… Om Dean. Ngomongnya gitu, kayak—” “Kayak apa?” Aldean menaikkan alis, suaranya rendah dan lembut. Celine buru-buru menunduk, menusuk potongan roti di piringnya. “Nggak… nggak apa-apa.” Aldean menyesap kopinya, berusaha terlihat santai meski dadanya terasa penuh. Sementara Celine makan sambil menggoyang-goyangkan kakinya, kebiasaannya
Last Updated : 2025-11-20 Read more