Pukul lima pagi, Ibra terbangun dengan erangan tertahan. Tubuhnya meringkuk sedikit, telapak tangannya menekan ulu hati yang terasa perih dan panas bersamaan. Rasa sakit itu datang pelan, lalu menajam, seperti api kecil yang menyala dari dalam.“Ah, sa-sakit banget. Sshh…” napasnya tersendat.Ia tahu ini GERD-nya kambuh. Bukan tanpa sebab. Beberapa hari terakhir pikirannya tak pernah benar-benar tenang. Masa lalu yang ia kira sudah selesai, justru datang bertubi-tubi, mencuri jam tidur, mengacaukan jam makan, dan memaksa tubuhnya membayar mahal.“Aku harus minum obat.”Dengan langkah tertatih, Ibra keluar dari kamar. Bahunya sedikit membungkuk, wajahnya pucat. Setiap beberapa langkah, ia berhenti, menarik napas dalam-dalam, menahan rasa perih yang naik sampai ke dada.Dari arah dapur, terdengar suara air mendidih.Gyan berdiri di depan kompor, masih mengenakan kaus rumah dan celana pendek, rambutnya sedikit acak. Begitu melihat Ibra muncul dengan wajah menahan sakit, alisnya langsung
Last Updated : 2025-12-26 Read more