Anindya menoleh.Arvendra berdiri di sana, membawa kantong belanja, napasnya sedikit naik-turun karena berjalan cepat. Wajahnya tidak marah, tapi dingin. Dingin dengan cara yang hanya muncul saat dia menilai seseorang dalam hitungan detik.“Ini tetangga baru, Mas. Namanya Ryan,” jelas Anindya cepat.“Hmm.” Hanya itu respons Arvendra. Dia meraih pinggang Anindya pelan, mengisyaratkan agar mereka masuk.“Kami permisi dulu,” ujar Arvendra datar, sopan tapi jauh dari hangat.Ryan tersenyum. “Iya, silakan. Sampai ketemu lagi, Mbak Anindya.”Begitu pintu apartemen tertutup, atmosfer langsung berubah.Arvendra meletakkan tas belanjaan di meja, lalu menatap Anindya tanpa banyak jeda.“Kamu harus hati-hati sama orang asing. Apalagi yang baru pindah,” ucap Arvendra tenang, tapi jelas tidak sedang main-main.“Mas, kita cuma kenalan.” Anindya mencoba terdengar santai, padahal nyerinya di perut membuatnya ingin duduk saja.“Kenalan cukup bilang hallo.” Nada Arvendra naik setengah tingkat, bukan ma
Last Updated : 2025-12-17 Read more