“Ayah,” sapa Anindya pelan ketika tiba di warung nasi uduk. Dia mencium tangan Indra seperti kebiasaannya sejak kecil.“Sini, putri Ayah,” balas Indra. Telapak tangannya yang kasar mengusap punggung tangan Anindya sekilas, hangat, familiar.“Kita tambah satu porsi lagi, Bu,” ucap Indra pada penjual tanpa menoleh.“Kok Ayah jauh-jauh ke sini?” tanya Anindya sambil duduk di bangku plastik di depan Indra. “Ada apa memang?”“Makan dulu, Anin. Nanti Ayah cerita.” Nada suara Indra pelan, tapi mengandung sesuatu yang tidak biasa. Beberapa menit mereka makan dalam diam. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring dan riuh kendaraan di jalanan. Anindya nyaris tidak merasakan rasanya. Pikirannya masih penuh.Tiba-tiba Indra bertanya, tanpa menatap langsung, “Anin, kalau suatu hari kamu menikah, kita masih bisa sarapan bareng begini, nggak?”Sendok di tangan Anindya berhenti.“Menikah?” Anindya terkekeh kecil, berusaha santai. “Sama siapa dulu? Jangan bilang sama Zafran, ya.”Indra akhirnya ter
Last Updated : 2025-12-09 Read more