LOGINMakasih ya buat yang selalu komen dan kasih support. Aku itu seneng kalau ada yang komen, jadi semangat nulisnya karena berasa ada yang nungguin :)
Arvendra tidak langsung menjawab. Dia melepas genggamannya perlahan, lalu membuka jaket yang dikenakannya dengan gerakan tenang. Jaket itu disampirkan ke bahu Anindya, menutupi blouse putih yang basah oleh kopi.Sentuhan itu hangat. Namun, jeda yang menyertainya justru terasa dingin.Elea menyeringai tipis. Senyum puas seseorang yang merasa berada di posisi unggul.“Nah, apa aku bilang? Kamu nggak akan menang, Anindya,” kata Elea ringan, nyaris mengejek.Kalimat itu, ditambah sikap Arvendra yang sejak tadi berdiri di tengah, membuat keberanian Anindya yang sempat membara, menguap begitu saja.Serius?Di titik ini, pria itu menahannya, melindunginya, bahkan menutupinya. Tapi tetap membiarkan Elea bicara.Arvendra akhirnya angkat suara. Rendah. Datar. Tidak meninggi, tidak emosional.“Kalau kamu mau cari panggung,” kata Arvendra sambil menatap Elea lurus, “pilih tempat lain. Bukan di sini.”Elea mendengus kecil. “Lihat? Bahkan kamu pun–”“Sentuh dia lagi,” potong Arvendra pelan, suarany
“Yang pertama ngusik hidup aku siapa, Mbak?” Anindya bertanya balik dengan suaranya stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja ditantang.Anindya meletakkan gelas jusnya perlahan. Ujung jarinya masih menempel di kaca dingin itu, seolah butuh satu detik tambahan untuk memastikan tangannya tidak bergetar. Lalu Anindya menyandarkan punggung ke kursi dengan tenang. Dia mengingatkan dirinya sendiri, bahwa tenang bukan berarti kalah.Sudut bibir perempuan di depannya terangkat sinis. “Aku cuma mau kamu sadar, dengan siapa kamu sebenarnya bersaing.”Anindya mengangguk kecil. Bukan mengiyakan, lebih seperti menyusun ulang kepingan di kepalanya.Oh. Jadi ini bukan soal salah paham. Ini soal kuasa.“Bersaing?” ulang Anindya pelan. “Dengan nyuruh Ryan deketin aku? Dengan nyebarin video biar reputasi aku hancur?”Dada Anindya sempat mengencang saat menyebut nama itu. Ryan. Video. Semua hal yang dulu membuatnya memilih diam, menunduk, merasa bersalah padahal tidak tahu salahnya di mana.
Pemotretan itu seharusnya terasa seperti hari kerja biasa.Lampu studio. Backdrop putih. Arahan singkat dari tim kreatif. Make-up yang rapi tapi tidak berlebihan. Namun entah kenapa, hari ini terasa sedikit berbeda.“Aku nggak nyangka kita bisa sampai dapat klien sebesar ini! Valora, Lara. Ini bukan main-main,” seru Mia sambil menatap pantulan Anindya di cermin. Nada suaranya sulit menyembunyikan antusiasme.Anindya duduk tenang di kursi make-up, membiarkan MUA merapikan sentuhan terakhir di wajahnya. Dia tersenyum kecil, lebih hati-hati. “Ini baru test shoot, Mbak. Belum tentu cocok juga.”“Eh, tetap aja,” bantah Mia cepat. “Valora itu super selektif. Mereka nggak sembarang panggil model, apalagi yang lagi habis kena badai gosip.”Kalimat itu tidak keluar dengan nada merendahkan. Justru sebaliknya, seperti pengakuan jujur dari seseorang yang paham betul betapa kejam dan dinginnya industri ini pada mereka yang dianggap rapuh.Anindya mengangguk pelan. “Makanya aku ajak Mbak ke sini. A
Anindya menarik napas pelan. Dadanya sempat mengencang, refleks lama yang belum sepenuhnya hilang. Namun kali ini, dia tidak menunduk. Tidak pula terburu-buru membela diri.“Iya. Itu saya,” jawab Anindya tenang.Ruangan mendadak sunyi. Bukan sunyi yang menghakimi, lebih seperti jeda. Ruang yang sengaja dibiarkan terbuka.“Saya tidak menyangkal. Video itu nyata. Tapi narasi yang berkembang tidak sepenuhnya begitu,” lanjut Anindya, suaranya stabil meski jemarinya saling mengunci di pangkuan.Anindya berhenti sebentar. Bukan untuk mencari simpati, melainkan menata jarak agar kalimat berikutnya tidak terdengar sebagai pembelaan. “Saya mengakhiri kerja sama dengan Aluna Skin setelah kejadian itu. Bukan karena diminta, tapi karena saya merasa situasinya sudah tidak sehat. Untuk saya, dan untuk mereka,” lanjutnya jujur.Isvara mengangguk pelan. “Kamu tidak mencoba membersihkan nama kamu lewat brand?”Anindya menggeleng. “Tidak, Bu. Saya memilih diam waktu itu. Fokus menyelesaikan urusan sa
“Si kembar tidak ikut?” tanya Arvendra membuka percakapan. Setelah memperkenalkan Anindya secara singkat, kini mereka kini sudah duduk berhadapan. Meja itu rapi, jarak duduk terukur, dan suasananya tenang. Jenis pertemuan yang jelas tidak dibuat spontan, tapi juga tidak ingin terasa formal. “Mereka jarang ikut kalau urusan bisnis,” jawab Alvano lugas. Nada suaranya datar, nyaris tanpa aksen emosional. Polo shirt hitam yang dikenakannya sederhana, jatuh pas di tubuhnya. Usianya mungkin tidak jauh dari Arvendra, tapi pembawaannya seperti orang yang sudah lama berdamai dengan ritme hidupnya sendiri. “Ini bukan bisnis. Anggap saja perkenalan,” sahut Arvendra ringan. Alvano mengangguk singkat, seolah menerima koreksi itu tanpa merasa perlu membalas lebih panjang. “Kalau Elvio ke mana?” Kali ini perempuan di sebelahnya yang bertanya. Isvara. Blouse putih, rambut hitam tergerai rapi, sorot matanya hangat dan hidup. Kontras yang menarik dengan pria di sampingnya. “Sedang les berenang,” j
“Dia keluar negeri,” jawab Arvendra jujur. “Tapi kamu tenang aja. Dia nggak akan balik ke sini.”Bukan karena Ryan dilarang secara formal. Bukan karena satu surat hukum.Arvendra sudah memastikan jalur hidup Ryan ditutup rapat. Paspornya sudah ditandai, jalur pendanaannya ditutup, dan setiap pintu yang dulu terasa aman bagi Ryan kini berubah menjadi tembok. Bukan hukuman instan. Namun, cukup untuk memastikan satu hal: tidak ada ruang lagi baginya mendekati Anindya.Dan untuk orang seperti Ryan, itu hukuman yang jauh lebih menakutkan daripada penjara.“Maafin Mas,” ucap Arvendra kemudian, suaranya lebih rendah. “Karier kamu meredup. Video kamu kesebar. Semua itu karena kamu kenal sama Mas.”“Nggak apa-apa, Mas,” sahut Anindya tenang.“Huh?” Arvendra mengernyit.“Dari semua kejadian ini,” jawab Anindya pelan, “aku belajar satu hal penting. Aku harus lebih hati-hati sama orang. Bukan berarti berhenti jadi baik, tapi ingat kalau kebaikan nggak selalu kembali dengan cara yang sama.”“Tapi







