Bibir Arvendra menekan lebih dalam, tidak lagi sekadar menyentuh. Ada jeda sesaat, cukup untuk memastikan Anindya tidak menarik diri, sebelum ciuman itu berubah pelan, berirama, menuntut.Anindya terengah kecil di sela napas. Tangannya refleks mencengkeram kerah kaus Arvendra, seolah itu satu-satunya pegangan yang mencegahnya benar-benar jatuh. Dada mereka bertemu. Hangat. Nyata.Arvendra memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman itu dengan sabar, seakan memberi waktu Anindya menyesuaikan diri. Ibu jarinya menyusuri pipi gadis itu, turun ke rahang, lalu berhenti di bawah telinga. Titik itu yang membuat napas Anindya goyah.“Mas–” suara Anindya pecah, lebih seperti hembusan napas daripada kata.Arvendra tidak menjauh. Justru bibirnya bergeser ke sudut mulut Anindya, lalu kembali lagi, lebih lambat, lebih menekan, seolah sedang menandai ritme yang dia inginkan. Satu tangannya menguat di pinggang Anindya, menjaga tubuh itu tetap dekat, tetap di sana.Anindya akhirnya membalas. Tidak rapi
Última actualización : 2025-12-28 Leer más