“Itu dua pilihan yang sama,” protes Anindya, walau suaranya sudah tidak sekesal tadi.“Berarti jawabannya iya.” Arvendra menyimpulkan cepat, seperti pengacara licik yang baru menemukan celah hukum.“Mas! Jangan gitu dong!” protes Anindya tidak terima.“Udah sah,” gumam Arvendra ngawur.Anindya mencubit pinggangnya pelan. “Sah dari mana, sih?”“Dari hati saya,” jawab Arvendra, setengah ngelantur, setengah serius. Lalu dia diam sebentar, menempel makin rapat, seperti takut Anindya menguap begitu saja di udara dingin Lembang.“Anin,” panggilnya lagi.“Ya Tuhan. Apa lagi?”Arvendra menghela napas pendek. Suaranya turun, lebih pelan, lebih jujur dibanding tadi. “Jangan bikin saya nebak-nebak lagi,” katanya.Anindya menegang tipis. “Nebak apa?”“Nebak kamu bakal tinggal atau kabur,” jawab Arvendra tanpa ragu.“Saya capek,” lanjut Arvendra, kali ini tanpa bercanda. “Capek hidup tiga tahun cuma dari asumsi saya sendiri. Kamu pergi, saya diem. Kamu balik, saya masih harus tebak kamu mau tingga
Terakhir Diperbarui : 2026-01-27 Baca selengkapnya