“Astaga, Mas! Jangan ngomong gitu sekarang, dong.”Reaksi itu justru membuat Arvendra tertawa rendah. Tawanya singkat, puas. Jenis tawa seseorang yang tahu dia sedang menang. Dia menurunkan wajahnya, lalu mulai menghujani Anindya dengan kecupan tanpa jeda. Wajah, bibir, rahang, leher. Tidak tergesa, tapi jelas tidak berniat berhenti.“Loh, ‘kan jujur,” gumam Arvendra di sela kecupan.Anindya mendesah, jari-jarinya refleks mencengkeram seprai saat Arvendra terus turun, meninggalkan jejak hangat di dadanya, lalu ke perut. Sentuhan lidahnya lembut, hampir berlawanan dengan kesan kata-katanya barusan, membuat Anindya semakin kehilangan pijakan antara ingin memprotes atau justru memintanya lanjut.Arvendra berhenti sejenak. Dia melirik ke atas, mencari mata istrinya.Dari sudut pandang Anindya, Arvendra tampak terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengaku hampir kehilangan kendali. Tatapannya tajam, fokus, seperti singa yang sudah yakin mangsanya tidak akan lari ke mana-mana. Semen
Baca selengkapnya