Arvendra menghembuskan napas panjang, matanya terpejam sesaat. “Anindya …” suara Arvendra terdengar seperti peringatan yang nyaris runtuh.Anindya mengangkat wajahnya, menatap suaminya dari jarak dekat. “Tenang, kita tetap nurut aturan,” kata Anindya lembut. Senyum kecilnya tak lagi polos. Dan Arvendra tahu, Anindya sengaja memilih cara ini.Tubuh Anindya bergeser, membuat Arvendra kini berada di antara kedua pahanya.Arvendra langsung menegang. Tangannya refleks menahan pinggang Anindya, bukan menarik, bukan mendorong, bingung harus bagaimana.“Anin,” kata Arvendra rendah. “Kamu sadar nggak kamu lagi ngapain?”Anindya tidak langsung menjawab. Dia justru menunduk sedikit, menyandarkan dahi ke pelipis Arvendra. Tangannya bergerak pelan, mengelus perut Arvendra lebih dulu, seperti sengaja memberi jeda. Sentuhannya lembut, nyaris menenangkan, lalu perlahan turun.“Sadar, makanya pelan,” jawab Anindya ringan.Arvendra menghela napas berat. “Ini aman nggak?”Anindya mengangkat wajahnya,
Terakhir Diperbarui : 2026-02-09 Baca selengkapnya