“Emily, apa perutmu masih sakit?” tanya Lia dengan nada khawatir. Emily menoleh. “Hanya sedikit, nanti juga akan mendingan,” jawab Emily pelan. Ia berusaha tersenyum, meski rasa nyeri itu masih mencengkeram. “Jangan memaksakan diri,” sela Vanessa. Ia segera menuntun Emily ke kursi dan memintanya duduk. “Istirahatlah.” Emily menurut. Sejujurnya, berdiri terlalu lama memang terasa mustahil baginya saat ini. Rasa sakit di perutnya datang bergelombang, membuat tubuhnya melemah tanpa bisa ia cegah. Belum sempat ia menenangkan diri, suara langkah sepatu terdengar mendekat perlahan, namun cukup jelas. Emily langsung tahu siapa pemiliknya. Tanpa menoleh sedikit pun, ia bangkit dan melangkah pergi, meninggalkan Lia dan Vanessa yang tampak kebingungan. Ia sudah lelah. Sangat. Begitulah hari-harinya sejak maid baru itu datang. Fitnah demi fitnah, drama demi drama, selalu Kim yang menjadi pusatnya. Setiap hari terasa sama, seolah hidupnya berhenti bergerak. Ia masih bernapas, m
Last Updated : 2025-12-14 Read more