“Pagi-pagi sekali, Tuan mau pergi?” tanyanya pelan.Dominic hanya berdeham, tak menghentikan gerakannya.Emily melangkah mendekat. Dengan tangan gemetar yang ia paksa tenang, ia meraih dasi di leher pria itu dan mulai mengikatkannya. Jarinya bekerja perlahan.Tiba-tiba, satu tarikan di pinggangnya membuat tubuh Emily tersentak ke depan. Wajahnya kini sejajar dengan Dominic.“Kenapa sikapmu berubah, Hm?” tanya Dominic rendah.Emily menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum tipis. Senyum yang tak sampai ke matanya. Tangannya terangkat, mengelus rahang Dominic dengan lembut.“Karena saya sadar,” ucapnya pelan, “percuma memohon atau melawan. Tuan tidak akan melepaskan saya.”Kekehan Dominic terdengar. Dingin. Membuat tengkuk Emily merinding. Ia memalingkan wajah, menyembunyikan perasaannya sendiri.“Tuan,” katanya cepat, mengalihkan suasana, “saya sudah menyiapkan makanan untuk Anda.”“Benarkah?” Dominic me
Last Updated : 2025-12-18 Read more