Di depan rumah, Ratih memeluk Raya lebih lama dari biasanya. Di sampingnya, Dio berusaha tegar meski wajahnya terlihat sedih. Koper-koper Raya sudah dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh supir. Sementara Ares berdiri sedikit menjauh, memberi ruang untuk perpisahan keluarga. Tangan Ratih yang mulai menua mengusap punggung putrinya lembut. Matanya berkaca-kaca penuh haru. "Raya..." suara Ratih bergetar, tertahan di tenggorokan. "Iya, Bu?" Raya membalas pelukan ibunya erat, wajahnya tertanam di bahu Ratih. Ratih menarik napas dalam, berusaha menguatkan diri. Lalu ia melepaskan pelukan, menatap wajah putrinya dengan tatapan penuh kasih sayang dan nasihat. "Ingat pesan Ibu," ucapnya pelan namun tegas. "Sekarang surga kamu ada di suamimu. Jadilah istri yang sabar, yang bisa melayani suami dengan baik. Jangan pernah meninggikan suara pada Pak Ares, dan jaga kehormatan rumah tanggamu." Raya mengangguk pelan, air matanya mulai jatuh. "Iya, Bu. Raya ingat." Ratih mengusap pipi putrinya
Terakhir Diperbarui : 2026-01-08 Baca selengkapnya