Sesuai saran Ibu Ratih dan suster, Raya terus dipaksa bergerak. Setiap sepuluh langkah, Raya akan berhenti, memejamkan mata, dan meremas kemeja Ares hingga kusut masai."Ares, mulasnya makin sering," gumam Raya. Keringat dingin mulai tampak di pelipisnya.Ares langsung menoleh ke arah suster yang berjaga di depan pintu. "Suster! Kenapa mulasnya makin sering? Tadi katanya bukaan dua masih lama! Apa ini sudah pembukaan sepuluh? Tolong periksa lagi!"Ibu Ratih menghela napas panjang, mencoba bersabar menghadapi menantunya yang mulai overthinking. "Pak Ares, kalau mulasnya makin sering itu artinya bagus. Jalannya makin terbuka. Anak saya ini sedang berjuang, jangan diajak panik terus."Ares mengusap wajahnya yang mulai tampak kusam. "Saya tidak panik, Bu. Saya hanya... logis. Secara medis, kalau intensitas nyeri meningkat, harusnya ada tindakan, bukan cuma disuruh jalan-jalan seperti sedang tawaf di mall.""Ares, suaranya kecilin dikit," tegur Raya pelan. "Aku yang sakit, kenapa kamu yang
Read more