"Lalu gajahnya bilang, 'Terima kasih ya Kancil, kalau tidak ada kamu, kakiku pasti masih terjepit batu'," suara Raya lembut, mencoba menutupi kegelisahan yang sejak tadi merayapi hatinya. Raya duduk bersandar di kepala ranjang yang empuk, dengan Kelana yang berbaring santai menaruh kepalanya di paha Raya. Di tangan Raya, sebuah buku dongeng tentang petualangan kancil dan gajah terbuka lebar, sementara tangan kirinya tak henti mengusap rambut halus putra sulungnya itu. Kelana menatap ibunya dengan mata bulat yang cerdas. "Gajahnya baik ya, Mi? Dia tidak marah walaupun Kancil tadi sempat membohonginya?" Raya tersenyum, meski pikirannya melayang ke New York. "Iya, Sayang. Karena memaafkan itu jauh lebih indah daripada menyimpan marah. Kelana juga harus jadi anak yang pemaaf, ya?" "Iya, Mami. Kelana kan jagoan Mami," jawab bocah itu sambil memainkan robot kecil di tangannya, sesekali menggerakkannya di atas paha Raya. Tiba-tiba, ponsel Raya yang diletakkan di atas nakas bergeta
Read more