Ares turun terlebih dahulu di rumah Teddy, gerakannya cepat dan penuh amarah yang tertahan. Ia membantu Raya turun, namun sedetik kemudian ia menyadari telapak tangan istrinya terasa sangat dingin. "Kamu pucat sekali, Sayang. Kita bisa pulang kalau kamu merasa tidak enak badan," bisik Ares, tatapannya melembut sesaat. Raya menggeleng pelan, ia memaksakan senyum tipis meski rasa mual di perutnya kian menghebat. "Tidak apa-apa, Ares. Selesaikan dulu urusanmu dengan Teddy. Aku ingin ini semua berakhir hari ini." Ares menghela napas, menuntun Raya masuk ke dalam. Di ruang tamu, Teddy sudah duduk di sana. Tidak ada penyambutan hangat, tidak ada kopi yang tersaji. Hanya ada wajah seorang pria yang tampak sepuluh tahun lebih tua dari usia aslinya, menunduk dengan bahu yang merosot. "Kamu sudah datang, Ares," suara Teddy parau. Ia tidak berdiri, hanya menatap ujung sepatunya sendiri. Ares berdiri tegak di hadapan Teddy, bayangannya menutupi pria itu. "Aku tidak menyangka kamu ak
Terakhir Diperbarui : 2026-03-03 Baca selengkapnya