"Silakan duduk, Pak Ares, Ibu Raya," sapa dr. Indri ramah. Ia telah mengenal pasangan ini sejak kehamilan Karin dua puluh tahun yang lalu. "Wah, sudah lama sekali ya. Ada keluhan apa hari ini?" Ares berdehem, mencoba menetralkan suaranya yang mendadak sedikit serak. "Istri saya. Dia... yah, telat datang bulan. Sudah dua bulan." Dokter Indri mengangkat alisnya, lalu tersenyum simpul sambil mencatat di rekam medis. "Dua bulan?" "Iya, Dok. Biasanya gak pernah telat. Tadi sempet tespack, garisnya dua tapi samar banget," jawab Raya lirih. Wajahnya memerah. Ia merasa seperti remaja yang tertangkap basah melakukan kesalahan, padahal ia sedang duduk bersama suaminya yang sah. "Baik, usia empat puluh lima ya. Kita periksa dulu. Silakan berbaring di bed, kita lihat lewat USG," ujar dr. Indri sambil memakai sarung tangan lateksnya. Raya merebahkan diri dengan perasaan campur aduk. Ares berdiri tepat di samping kepala Raya, menggenggam tangannya seolah-olah istrinya sedang akan menjala
Mehr lesen