“Ah, benar-benar sebuah kebetulan yang bagus. Memang kami sedang membahas kamu.” Cantika tersenyum dingin sambil menatap Sera dengan tatapan meremehkan. “Ada apa? Apa kamu bersikeras ingin berada di sisi putra saya, padahal kamu cuma seorang pelarian–”“Mama,” sela Raven dengan suara dinginnya, lalu dia mengalihkan tatapannya pada Sera. “Sera, kembali ke pekerjaanmu. Ini bukan sesuatu yang bisa kamu ikut campuri.”Sera terdiam selama beberapa saat sambil mengeratkan kepalan tangannya, seakan-akan sedang menguatkan tekadnya.Hatinya terlalu sakit. Sangat sakit. Sehingga yang bisa dia lakukan sekarang adalah membalas rasa kecewanya pada Raven, di depan ibunya.“Dugaan Nyonya salah,” ucap Sera akhirnya, seraya menatap Cantika dengan tenang. Seakan-akan dia tidak menganggap kehadiran Raven di sampingnya.Raven seketika mengatupkan bibirnya, menatap Sera dengan kening berkerut.“Salah?” timpal Cantika, “jadi maksudmu… kamu akan meninggalkannya?”Kepalan tangan Sera bergetar. Ruang napasnya
Baca selengkapnya