“Baru kali ini loh kita dapat pembeli seganteng itu.” Bu Teti tersenyum sumringah sambil duduk istirahat di kursi yang ada di dapur.Sera hanya mendengarkan sambil mencuci piring. Dia berharap Bu Teti tidak melanjutkan pembahasannya mengenai Raven. Sera tidak ingin mendengar sosok pria itu disebut-sebut.Tapi tampaknya Bu Teti masih takjub dengan Raven.“Udah tinggi, ganteng, wangi lagi.” Teti berdecak lidah sambil geleng-geleng kepala, takjub. “Wanginya itu sampai tercium semerbak, warung kita yang biasanya bau masakan langsung jadi harum walaupun orangnya sudah nggak ada!”Pak Toni, suami Bu Teti, berdecak lidah sambil mengipasi tubuhnya dengan topi. “Namanya juga orang kota, Bu. Wajar kalau wangi,” timpalnya, “Bapak jadi kasihan sama dia, bajunya pasti jadi bau masakan setelah keluar dari warung kita.”Teti tertawa kecil. “Iya juga, ya.”Napas Sera tertahan. Baginya, aroma tubuh pria itu terasa bagai belati yang menikam jantungnya. Karena aroma maskulin itu mengingatkan Sera pada h
اقرأ المزيد