“Maafkan aku.”Raven mendongak, menatap Sera dengan tatapan penuh permohonan dan rasa bersalah. Kedua tangannya mengepal di atas lututnya.Dia bukan orang yang mudah meminta maaf, apalagi sampai rela berlutut di hadapan seseorang.Tetapi malam ini, Raven melakukannya, karena dirinya benar-benar merasa bersalah telah membuat wanita itu, yang paling ingin dia lindungi, terluka karenanya.“Maaf,” ucap Raven sekali lagi dengan suara serak. Sorot matanya menyusut. “Aku mohon, maafkan aku, Sera.”Sera masih membeku seakan-akan tidak percaya dengan pemandangan di hadapannya. Napasnya tertahan. Bahkan matanya tiba-tiba memanas.“Tolong berdiri.” Tenggorokan Sera tercekat. Dia mengalihkan pandangannya ke arah lain, selain Raven. “Saya tidak setara dengan Bapak, jadi Bapak tidak pantas berlutut di depan saya.”“Aku tidak peduli.” Tatapan lekat Raven tidak berubah. “Aku tidak akan berdiri dan pergi sebelum kamu memaafkanku.”Sera menggigit bibir bawahnya dengan perasaan kesal sekaligus sesak. Di
Ler mais