Kiara menghela napas kecil, menutup pintu oven perlahan. Aroma kue vanila yang hangat memenuhi dapur, menenangkan sekaligus mengusir rasa bosan yang sejak pagi menggelayuti pikirannya.Tangannya bergerak pelan, lebih hati-hati dari biasanya. Sesekali ia berhenti, menekan punggung tangannya ke pinggang, lalu tersenyum kecil saat merasakan gerakan halus dari dalam perutnya.“Sebentar ya,” gumamnya, entah pada kue atau pada bayi itu sendiri.Bel pintu berbunyi.Tak lama kemudian, suara langkah ringan dan tawa kecil memenuhi ruang tamu.“Nisa,” sapa Kiara sambil mengelap tangannya dengan celemek.Nisa berdiri di ambang dapur, matanya langsung berbinar. “Wah, kakak bikin kue lagi? Harumnya bikin aku laper.”Kiara tertawa pelan. “Lagi iseng. Daripada bengong.”Nisa mendekat, lalu berkata dengan nada setengah bercanda, setengah penuh harap,“Kak, lusa aku ulang tahun. Sekalian juga syukuran karena aku akhirnya diangkat jadi karyawan tetap. Boleh nggak aku minta tolong bikinin aneka kue kecil
Terakhir Diperbarui : 2026-01-29 Baca selengkapnya