Di kafetaria rumah sakit, Aris duduk melamun. Tatapannya kosong, menembus meja di hadapannya. Ia bahkan tak menyadari ketika seseorang menarik kursi dan meletakkan segelas kopi di depan matanya.“Makasih,” ucap Aris akhirnya, setelah tersadar akan kehadiran rekannya.“Kamu bengong terus. Ada masalah?” tanya wanita itu santai.“Nggak,” jawab Aris cepat, sambil melambaikan tangan. “Nggak ada apa-apa, kok.”Rekannya hanya mengangguk, lalu menyesap ice americano-nya.Hening beberapa detik mengisi ruang di antara mereka. Hingga Aris, seperti tak tahan lagi dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba bertanya,“Kalau seorang perempuan bicara lewat telepon diam-diam di malam hari ..., biasanya itu artinya apa, ya?”Wanita itu menurunkan gelasnya, lalu menjawab tanpa berpikir lama.“Ada dua kemungkinan. Lagi jatuh cinta, atau lagi ditagih rentenir.”Ekspresi Aris berubah seketika—aneh, sulit dijabarkan.Wanita itu menyipitkan mata. “Siapa yang begitu? Istrimu?”“Siapa bilang?” Aris langsung membant
Última actualización : 2025-12-20 Leer más