Dewi terlelap—obat bius membuat kelopak matanya menutup rapat, wajahnya pucat dan rapuh, berbanding terbalik dengan amarah yang sebelumnya meledak-ledak.Arhan berdiri di luar ruang tindakan, tangannya gemetar tanpa ia sadari.Seorang dokter keluar, membuka masker perlahan.“Ada sepuluh jahitan,” katanya profesional. “Untung saja tidak terlalu dalam, jadi ligamennya aman.”Arhan mengangguk..“Terima kasih, Dok.”Dokter itu pergi, meninggalkan Arhan sendirian dengan pikirannya sendiri—pikiran yang terlalu bising untuk disebut tenang.Beberapa saat kemudian, Dewi sudah sadar, ia langsung diperbolehkan pulang. Arhan mendorong kursi roda Dewi keluar dari rumah sakit. Udara malam menyentuh kulit mereka, dingin dan lembap. Di depan pintu, Arhan berhenti, lalu mengunci roda kursi itu.“Aku akan tinggal di apartemen temanku yang kosong,” ucap Dewi pelan tapi penuh pendekatan dalam setiap nadanya. Arhan hanya diam, menatap lurus ke depan.“Kuberi kamu waktu satu minggu,” lanjut Dewi. “Akhiri
Última actualización : 2025-12-23 Leer más