Mag-log inAris sudah tiba di Jogja sore itu. Lampu-lampu restoran hotel tempat ia menginap menyala terang, memantulkan cahaya hangat yang justru berseberangan dengan suasana di antara mereka. Aris dan Dewi duduk saling berhadapan, dua cangkir kopi terletak di meja, nyaris tak tersentuh.Dewi memecah keheningan lebih dulu. “Akhirnya kamu bergerak juga,” katanya datar. “Tidak cuma duduk menunggu istrimu pulang.”Aris menghela napas pelan. “Sebenarnya aku percaya Kiara bakal pulang sendiri.”Belum sempat kalimat itu benar-benar mengendap, Dewi menyela. Ia menurunkan cangkir yang baru saja diminumnya dengan suara kecil namun tegas. “Kita tidak sedang membicarakan anak remaja yang kabur dari rumah,” ujarnya tajam. “Ini perempuan dewasa yang memilih pergi dengan pria lain.”Aris menautkan jarinya, menatap meja. “Baiklah. Karena aku sudah sampai di sini,” katanya akhirnya, “katakan… kira-kira di mana istriku sekarang berada.”Dewi mengangkat bahu tipis. “Kita harus mencarinya. Ki
Mereka akhirnya tiba di rumah itu—sebuah bangunan sederhana yang berdiri tenang di tengah alam, dikelilingi pepohonan dan udara yang terasa lebih jujur. Arhan menuntun sepeda ke samping, lalu menoleh pada Kiara.“Kalau begitu kamu mandi dulu,” katanya santai. “Aku siapin makan malam.”Kiara tak langsung menjawab. Ia justru memeluk Arhan dari belakang, menempelkan pipinya di punggung pria itu. Pelukannya lembut, namun terasa menahan.“Sebentar lagi,” ucapnya pelan. “Aku ingin lebih lama berdua sama kamu. Sebentar lagi saja.”Arhan terdiam sejenak, lalu memutar tubuhnya. Ia memegang kedua tangan Kiara, menatap wajah itu dengan senyum yang tak dibuat-buat.Kiara menarik tangan Arhan, membawanya ke sebuah kursi kayu ayunan di teras. Mereka duduk berdampingan. Kiara menyilangkan kaki, satu tangannya menyangga pipi, menatap Arhan dengan mata penuh rasa ingin tahu.“Ceritakan tentang masa kecilmu,” pintanya. “Tentang kakek dan nenekmu yang dulu tinggal di sini.”
Mereka bersepeda menyusuri jalanan kecil yang membelah perbukitan. Arhan berada di depan, mengayuh dengan santai, sementara Kiara duduk membonceng di belakang, kedua tangannya berpegangan di pinggang pria itu. Angin sore menyapu rambutnya, membawa aroma bunga liar dan dedaunan kering. Dalam diam, Kiara berbicara pada dirinya sendiri. Sinar matahari pukul tiga sore…. Pada hari-hari biasa, jam segini tak pernah berarti apa-apa. Biasanya aku hanya lelah, tergesa, memikirkan pesanan kafe, jam pulang, dan hal-hal yang harus kuselesaikan. Tapi sekarang… rasanya begitu berbeda. Sangat-sangat membuatku bahagia. Jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat sehelai daun yang tergeletak di pinggir jalan, dan batu-batu kecil yang terserak, seolah sedang menyusun ceritanya sendiri. Aku ingin tahu, batinnya pelan, apa yang membuatku sebahagia ini. Arhan tiba-tiba memperlambat laju sepedanya, lalu berhenti. Kiara hampir kehi
Nurmala mendekat ke arah Aris, suaranya lirih namun penuh harap.“Siapa itu?” bisiknya. “Jangan-jangan Kiara?”Bel kembali berbunyi. Nurmala tak lagi menunggu. Ia segera menuruni tangga dan membuka pintu."Kiara... apa itu kamu?"Saat hendak membukakan pintu, raut wajah Nurmala tampak sumeh, barangkali yang datang adalah menantunya. Namun, ketika pintu itu terbuka, dugaannya meleset—yang tampak justru Lestari. Perempuan yang sama sekali tak ia harapkan kedatangannya.Nurmala sontak terdiam sejenak. Tatapannya menyapu wajah perempuan itu, lalu turun ke tangan kecil yang digenggam Lestari. Dinda berdiri sampingnya, menengadah dengan mata polos.“Halo, Nek,” sapa Dinda ceria.Nurmala membalas dengan senyum tipis—senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan, melainkan dari perasaan yang tak tega. Ia tahu anak itu bukan cucunya, tapi kepolosan di wajah Dinda tak pantas ikut terseret ke dalam urusan orang dewasa.Tatapan Nurmala kembali datar saat beralih pada
Pagi itu pegunungan menyambut mereka dengan sunyi yang menenangkan. Udara terasa sejuk, bersih, tanpa bising kendaraan atau suara kota yang tergesa. Arhan dan Kiara berjalan berdampingan di jalur kecil, jari-jari mereka saling bertaut, langkahnya pelan seolah tak ingin mengganggu ketenangan sekitar.Dengan kaus putih dan celana jins sederhana, mereka terlihat serasi—bukan mencolok, tapi pas. Seperti dua orang yang sedang menikmati hari pertama dari sesuatu yang baru, meski tak pernah benar-benar diberi nama.“Udaranya segar, ya,” ujar Kiara sambil menarik napas panjang. “Mataharinya cerah, tapi nggak panas.”“Iya,” sahut Arhan. Ia melirik tangan mereka yang bergandengan, lalu tersenyum. “Airnya juga bersih. Dan yang paling penting, sekarang aku sedang menggandeng tangan wanita yang sangat aku cintai.”Kiara menoleh. Tatapan mereka bertemu sambil terus berjalan.“Hmm,” Kiara tertawa kecil. “Gombalan bapak-bapak memang beda.”Arhan ikut tertawa. “Aku nggak meng
Pintu itu akhirnya terbuka.Namun yang berdiri di sana bukan Kiara, melainkan Nurmala—ibunya. Ia melangkah masuk dengan wajah cemas yang tak bisa ia sembunyikan. Pandangannya langsung menyapu ruang tamu yang berantakan, lalu berhenti pada wajah anaknya.“Kiara di mana?” tanyanya cepat. “Apa dia pergi?”Aris menelan ludah. “Hmm, dia baru saja keluar,” jawabnya tergesa. “Ke kafe. Mengantarkan kue.”Nurmala mengernyit. “Sepagi ini?” Nada suaranya meninggi sedikit. “Apa kafe sudah buka sepagi ini?”Aris mengalihkan pandangan, celingukan seolah mencari sesuatu yang hilang. Napasnya pendek-pendek. Ia tak menjawab.Getaran ponsel di atas meja memecah kebingungan Aris. Ia langsung berbalik dan meraihnya, berharap istrinya yang menelepon.“Iya, halo?” ucapnya cepat.Suara perempuan terdengar dari seberang. “Ini aku, Dewi. Apa Kiara sejak semalam tidak pulang?”Aris terdiam sepersekian detik, lalu menjawab, “Tidak. Dia di rumah.”Sebuah kebohongan lain keluar dengan mudah.Tapi Dewi menangkap s







