Beranda / Rumah Tangga / Perselingkuhan di Siang Hari / Bab 78 - Bintang yang Datang Diam-Diam

Share

Bab 78 - Bintang yang Datang Diam-Diam

Penulis: Wee Daevii
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-30 15:09:25

Mereka duduk lesehan beralaskan tikar di taman belakang rumah. Rumput terasa dingin di telapak kaki, tanah sedikit lembap, tapi tak satu pun dari mereka peduli. Keduanya memeluk lutut, berdampingan, menatap langit malam yang terbuka luas di atas kepala.

Untuk beberapa saat, tak ada suara selain desir angin dan napas mereka sendiri.

“Kiara…” Arhan memecah keheningan, suaranya rendah. “Hari ini pasti sangat berat untukmu.”

Kiara tak langsung menjawab. Ia tetap menatap langit, lalu menggeleng pelan.

“Tidak,” katanya akhirnya. “Sama sekali tidak berat.”

Arhan menoleh, jelas tak percaya.

Kiara menatap balik dengan senyum kecil—bukan senyum pura-pura, melainkan senyum yang lahir dari kelegaan. “Karena aku tidak sendirian.”

Senyum Arhan mengembang, sederhana, tapi hangat.

“Aku pernah baca puisi ini.” Kiara kembali bersuara. “Jangan berkecil hati saat kau berjalan dalam gelap dan tak melihat satu pun bintang terang. Bintang yang paling terang mungkin saja belum datang.”

Arhan mengangguk pelan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 85 - Harga Sebuah Pengampunan

    Di malam ketika Kiara terbangun karena mimpi buruk, Arhan menenangkannya hingga napas perempuan itu kembali teratur dan tubuhnya mengendur dalam pelukan. Lama Arhan menatap wajah yang kini terlelap itu, seolah memastikan tidurnya benar-benar pulih. Setelah yakin Kiara tak lagi gelisah, ia bergerak perlahan, berhati-hati agar tak membangunkannya. Tangannya meraih ponsel yang sejak kemarin sengaja dimatikan. Begitu layar menyala, puluhan notifikasi berhamburan memenuhi layar, namun Arhan mengabaikannya. Ia langsung mencari satu nama—lalu menekan tombol panggil.Tak butuh waktu lama panggilan itu langsung tersambung.“Berani sekali kamu menghubungiku,” suara Aris terdengar dingin, menahan amarah. “Setelah membawa kabur istri orang.”Arhan menarik napas dalam-dalam. Ia tidak membalas dengan nada tinggi. “Saya ingin bertemu, Pak Aris,” katanya tenang. “Saya ingin menyelesaikan semua ini secepatnya. Kita bicarakan langsung.”Di seberang, terdengar tawa singkat tanpa kehangatan. “Nyali kamu

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 84 - Kalung Semanggi di Pagi Terakhir

    Aris sudah tiba di Jogja sore itu. Lampu-lampu restoran hotel tempat ia menginap menyala terang, memantulkan cahaya hangat yang justru berseberangan dengan suasana di antara mereka. Aris dan Dewi duduk saling berhadapan, dua cangkir kopi terletak di meja, nyaris tak tersentuh. Dewi memecah keheningan lebih dulu. “Akhirnya kamu bergerak juga,” katanya datar. “Tidak cuma duduk menunggu istrimu pulang.” Aris menghela napas pelan. “Sebenarnya aku percaya Kiara bakal pulang sendiri.” Belum sempat kalimat itu benar-benar mengendap, Dewi menyela. Ia menurunkan cangkir yang baru saja diminumnya dengan suara kecil namun tegas. “Kita tidak sedang membicarakan anak remaja yang kabur dari rumah,” ujarnya tajam. “Ini perempuan dewasa yang memilih pergi dengan pria lain.” Aris menautkan jarinya, menatap meja. “Baiklah. Karena aku sudah sampai di sini,” katanya akhirnya, “katakan… kira-kira di mana istriku sekarang berada.” Dewi mengangkat bahu tipis. “Kita harus mencarinya. Kita tidak bisa

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 83 - Ayunan Senja dan Bayangan Malam

    Mereka akhirnya tiba di rumah itu—sebuah bangunan sederhana yang berdiri tenang di tengah alam, dikelilingi pepohonan dan udara yang terasa lebih jujur. Arhan menuntun sepeda ke samping, lalu menoleh pada Kiara.“Kalau begitu kamu mandi dulu,” katanya santai. “Aku siapin makan malam.”Kiara tak langsung menjawab. Ia justru memeluk Arhan dari belakang, menempelkan pipinya di punggung pria itu. Pelukannya lembut, namun terasa menahan.“Sebentar lagi,” ucapnya pelan. “Aku ingin lebih lama berdua sama kamu. Sebentar lagi saja.”Arhan terdiam sejenak, lalu memutar tubuhnya. Ia memegang kedua tangan Kiara, menatap wajah itu dengan senyum yang tak dibuat-buat.Kiara menarik tangan Arhan, membawanya ke sebuah kursi kayu ayunan di teras. Mereka duduk berdampingan. Kiara menyilangkan kaki, satu tangannya menyangga pipi, menatap Arhan dengan mata penuh rasa ingin tahu.“Ceritakan tentang masa kecilmu,” pintanya. “Tentang kakek dan nenekmu yang dulu tinggal di sini.”

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 82 - Di Jam Tiga Sore

    Mereka bersepeda menyusuri jalanan kecil yang membelah perbukitan. Arhan berada di depan, mengayuh dengan santai, sementara Kiara duduk membonceng di belakang, kedua tangannya berpegangan di pinggang pria itu. Angin sore menyapu rambutnya, membawa aroma bunga liar dan dedaunan kering. Dalam diam, Kiara berbicara pada dirinya sendiri. Sinar matahari pukul tiga sore…. Pada hari-hari biasa, jam segini tak pernah berarti apa-apa. Biasanya aku hanya lelah, tergesa, memikirkan pesanan kafe, jam pulang, dan hal-hal yang harus kuselesaikan. Tapi sekarang… rasanya begitu berbeda. Sangat-sangat membuatku bahagia. Jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat sehelai daun yang tergeletak di pinggir jalan, dan batu-batu kecil yang terserak, seolah sedang menyusun ceritanya sendiri. Aku ingin tahu, batinnya pelan, apa yang membuatku sebahagia ini. Arhan tiba-tiba memperlambat laju sepedanya, lalu berhenti. Kiara hampir kehi

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 81 - Benang yang Diharapkan Putus

    Nurmala mendekat ke arah Aris, suaranya lirih namun penuh harap.“Siapa itu?” bisiknya. “Jangan-jangan Kiara?”Bel kembali berbunyi. Nurmala tak lagi menunggu. Ia segera menuruni tangga dan membuka pintu."Kiara... apa itu kamu?"Saat hendak membukakan pintu, raut wajah Nurmala tampak sumeh, barangkali yang datang adalah menantunya. Namun, ketika pintu itu terbuka, dugaannya meleset—yang tampak justru Lestari. Perempuan yang sama sekali tak ia harapkan kedatangannya.Nurmala sontak terdiam sejenak. Tatapannya menyapu wajah perempuan itu, lalu turun ke tangan kecil yang digenggam Lestari. Dinda berdiri sampingnya, menengadah dengan mata polos.“Halo, Nek,” sapa Dinda ceria.Nurmala membalas dengan senyum tipis—senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan, melainkan dari perasaan yang tak tega. Ia tahu anak itu bukan cucunya, tapi kepolosan di wajah Dinda tak pantas ikut terseret ke dalam urusan orang dewasa.Tatapan Nurmala kembali datar saat beralih pada

  • Perselingkuhan di Siang Hari   Bab 80 - Di Antara Air yang Mengalir

    Pagi itu pegunungan menyambut mereka dengan sunyi yang menenangkan. Udara terasa sejuk, bersih, tanpa bising kendaraan atau suara kota yang tergesa. Arhan dan Kiara berjalan berdampingan di jalur kecil, jari-jari mereka saling bertaut, langkahnya pelan seolah tak ingin mengganggu ketenangan sekitar.Dengan kaus putih dan celana jins sederhana, mereka terlihat serasi—bukan mencolok, tapi pas. Seperti dua orang yang sedang menikmati hari pertama dari sesuatu yang baru, meski tak pernah benar-benar diberi nama.“Udaranya segar, ya,” ujar Kiara sambil menarik napas panjang. “Mataharinya cerah, tapi nggak panas.”“Iya,” sahut Arhan. Ia melirik tangan mereka yang bergandengan, lalu tersenyum. “Airnya juga bersih. Dan yang paling penting, sekarang aku sedang menggandeng tangan wanita yang sangat aku cintai.”Kiara menoleh. Tatapan mereka bertemu sambil terus berjalan.“Hmm,” Kiara tertawa kecil. “Gombalan bapak-bapak memang beda.”Arhan ikut tertawa. “Aku nggak meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status