MasukMereka bersepeda menyusuri jalanan kecil yang membelah perbukitan. Arhan berada di depan, mengayuh dengan santai, sementara Kiara duduk membonceng di belakang, kedua tangannya berpegangan di pinggang pria itu. Angin sore menyapu rambutnya, membawa aroma bunga liar dan dedaunan kering. Dalam diam, Kiara berbicara pada dirinya sendiri. Sinar matahari pukul tiga sore…. Pada hari-hari biasa, jam segini tak pernah berarti apa-apa. Biasanya aku hanya lelah, tergesa, memikirkan pesanan kafe, jam pulang, dan hal-hal yang harus kuselesaikan. Tapi sekarang… rasanya begitu berbeda. Sangat-sangat membuatku bahagia. Jantungnya berdegup kencang hanya karena melihat sehelai daun yang tergeletak di pinggir jalan, dan batu-batu kecil yang terserak, seolah sedang menyusun ceritanya sendiri. Aku ingin tahu, batinnya pelan, apa yang membuatku sebahagia ini. Arhan tiba-tiba memperlambat laju sepedanya, lalu berhenti. Kiara hampir kehi
Nurmala mendekat ke arah Aris, suaranya lirih namun penuh harap.“Siapa itu?” bisiknya. “Jangan-jangan Kiara?”Bel kembali berbunyi. Nurmala tak lagi menunggu. Ia segera menuruni tangga dan membuka pintu."Kiara... apa itu kamu?"Saat hendak membukakan pintu, raut wajah Nurmala tampak sumeh, barangkali yang datang adalah menantunya. Namun, ketika pintu itu terbuka, dugaannya meleset—yang tampak justru Lestari. Perempuan yang sama sekali tak ia harapkan kedatangannya.Nurmala sontak terdiam sejenak. Tatapannya menyapu wajah perempuan itu, lalu turun ke tangan kecil yang digenggam Lestari. Dinda berdiri sampingnya, menengadah dengan mata polos.“Halo, Nek,” sapa Dinda ceria.Nurmala membalas dengan senyum tipis—senyum yang lahir bukan dari kebahagiaan, melainkan dari perasaan yang tak tega. Ia tahu anak itu bukan cucunya, tapi kepolosan di wajah Dinda tak pantas ikut terseret ke dalam urusan orang dewasa.Tatapan Nurmala kembali datar saat beralih pada
Pagi itu pegunungan menyambut mereka dengan sunyi yang menenangkan. Udara terasa sejuk, bersih, tanpa bising kendaraan atau suara kota yang tergesa. Arhan dan Kiara berjalan berdampingan di jalur kecil, jari-jari mereka saling bertaut, langkahnya pelan seolah tak ingin mengganggu ketenangan sekitar.Dengan kaus putih dan celana jins sederhana, mereka terlihat serasi—bukan mencolok, tapi pas. Seperti dua orang yang sedang menikmati hari pertama dari sesuatu yang baru, meski tak pernah benar-benar diberi nama.“Udaranya segar, ya,” ujar Kiara sambil menarik napas panjang. “Mataharinya cerah, tapi nggak panas.”“Iya,” sahut Arhan. Ia melirik tangan mereka yang bergandengan, lalu tersenyum. “Airnya juga bersih. Dan yang paling penting, sekarang aku sedang menggandeng tangan wanita yang sangat aku cintai.”Kiara menoleh. Tatapan mereka bertemu sambil terus berjalan.“Hmm,” Kiara tertawa kecil. “Gombalan bapak-bapak memang beda.”Arhan ikut tertawa. “Aku nggak meng
Pintu itu akhirnya terbuka.Namun yang berdiri di sana bukan Kiara, melainkan Nurmala—ibunya. Ia melangkah masuk dengan wajah cemas yang tak bisa ia sembunyikan. Pandangannya langsung menyapu ruang tamu yang berantakan, lalu berhenti pada wajah anaknya.“Kiara di mana?” tanyanya cepat. “Apa dia pergi?”Aris menelan ludah. “Hmm, dia baru saja keluar,” jawabnya tergesa. “Ke kafe. Mengantarkan kue.”Nurmala mengernyit. “Sepagi ini?” Nada suaranya meninggi sedikit. “Apa kafe sudah buka sepagi ini?”Aris mengalihkan pandangan, celingukan seolah mencari sesuatu yang hilang. Napasnya pendek-pendek. Ia tak menjawab.Getaran ponsel di atas meja memecah kebingungan Aris. Ia langsung berbalik dan meraihnya, berharap istrinya yang menelepon.“Iya, halo?” ucapnya cepat.Suara perempuan terdengar dari seberang. “Ini aku, Dewi. Apa Kiara sejak semalam tidak pulang?”Aris terdiam sepersekian detik, lalu menjawab, “Tidak. Dia di rumah.”Sebuah kebohongan lain keluar dengan mudah.Tapi Dewi menangkap s
Mereka duduk lesehan beralaskan tikar di taman belakang rumah. Rumput terasa dingin di telapak kaki, tanah sedikit lembap, tapi tak satu pun dari mereka peduli. Keduanya memeluk lutut, berdampingan, menatap langit malam yang terbuka luas di atas kepala.Untuk beberapa saat, tak ada suara selain desir angin dan napas mereka sendiri.“Kiara…” Arhan memecah keheningan, suaranya rendah. “Hari ini pasti sangat berat untukmu.”Kiara tak langsung menjawab. Ia tetap menatap langit, lalu menggeleng pelan.“Tidak,” katanya akhirnya. “Sama sekali tidak berat.”Arhan menoleh, jelas tak percaya.Kiara menatap balik dengan senyum kecil—bukan senyum pura-pura, melainkan senyum yang lahir dari kelegaan. “Karena aku tidak sendirian.”Senyum Arhan mengembang, sederhana, tapi hangat.“Aku pernah baca puisi ini.” Kiara kembali bersuara. “Jangan berkecil hati saat kau berjalan dalam gelap dan tak melihat satu pun bintang terang. Bintang yang paling terang mungkin saja belum datang.”Arhan mengangguk pelan
Aris pulang saat langit sudah sepenuhnya gelap. Ia membuka pintu rumah dengan perasaan tak enak yang tak bisa ia jelaskan. Rumah itu sunyi.“Kiara?” panggilnya.Tak ada jawaban.Langkahnya terhenti di depan kamar. Lemari terbuka. Sisi yang biasa dipenuhi pakaian Kiara kini kosong. Tak ada baju-bajunya, tak ada tas, tak ada wangi butter dan coklat seperti biasa. Meja rias pun bersih, kamar itu kosong dan rumah terasa asing.Aris membeku.Baru beberapa detik kemudian napasnya memburu. Tangannya mengepal, rahangnya mengeras, menahan gelombang marah dan panik yang datang bersamaan.Tanpa berpikir panjang, Aris meraih ponselnya dan menekan satu nama.Dewi.Di sisi lain, Dewi yang masih berada di dalam bandara refleks mengangkat ponselnya. Matanya sempat berbinar, dadanya berdegup cepat. Untuk sesaat, ia yakin—itu Arhan.Namun, harapan itu runtuh seketika, saat suara di seberang terdengar asing, dingin, dan penuh tekanan.Dewi menempelkan ponsel lebih erat ke telinganya.“Kurasa suamimu men







