Aku masuk ke rumah, baru ingin melepas sepatu saat Aresh memanggilku. “Sherry.” Aku menoleh pelan. “Aku ingin kamu tahu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun, siapa pun, merendahkan kamu lagi.” Lalu Aaron menyusul ucapannya, berdiri di sisi lain. “Dan kalau kamu takut bicara, biar aku yang akan melawan mereka.” Aku hanya bisa terdiam. Terjebak di tengah dua pria yang terlalu melindungiku, membuatku tak tahu harus bersyukur atau justru menangis. “Besok, kamu kembali magang seperti biasa,” ucap Aresh. “Kepala HR akan meminta maaf padamu.” Aaron menambahkan, sorot matanya intens, “Dan mulai sekarang, kamu pulang denganku atau dengan Aresh. Tidak sendirian.” “Kalian tidak bisa mengatur aku begitu saja…” protesku lirih. “Oh, kami bisa,” jawab mereka bersamaan lagi. Aku menutup wajahku dengan kedua tangan. “Terserah kalian…” Tapi dalam hati, aku tahu… aku bahagia karenanya. Meski semua ini terasa rumit, meski semua ini terasa salah, meski aku tidak tahu siapa yang akan lebi
Terakhir Diperbarui : 2025-11-23 Baca selengkapnya