Aku berdiri mematung, memandangi refleksi diriku di pintu logam yang menutup rapat dengan napas tercekat dan dada yang terasa sesak. "Apa, sih. Selalu seperti itu, datang datang marah, datang datang marah," gerutuku, bersandar ke dinding lift, mencoba menenangkan detak jantung yang masih berpacu gila. Aroma parfum Aaron masih tertinggal, samar tapi kuat, menempel di kulitku seperti ingatan yang enggan pergi."Huuu, untung ganteng. Kalau tidak, ku jambak saja rambutnya!"Kukepalkan tangan menahan kesal, tapi meski begitu, sudut mulutku terangkat. Bertemu Aaron lagi di saat seperti ini, entah kenapa terasa seperti bertemu oase di tengah padang gurun. "Kenapa dia setampan itu, sih? Buat orang tergila-gila saja," gumamku, menatap pintu lift yang tertutup. Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka di lantai bawah, tapi aku tidak segera keluar. Aku hanya berdiri di sana, memandangi lantai, menelan campuran rasa bersalah dan bingung yang menggantung di udara."Dia marah karena aku tak m
Last Updated : 2025-11-15 Read more