"M-maksudnya, Kak?"Aaron mengemudi tanpa menoleh, hanya menjawab. “Kami bicara.”Suasana senyap sebelum ia menambahkan, pelan, tapi menusuk. “Mulai besok, tidak ada lagi yang menyentuhmu, Sherry. Aku bisa pastikan itu.”Entah bagaimana, kalimat itu membuatku menunduk, bukan karena takut, tapi karena ada sesuatu di dadaku yang terasa terlalu penuh untuk ditahan.***Sampai rumah, aku memandangi layar ponsel yang penuh pesan, beban yang bahkan tidak sanggup kubaca.Nadia: [Sherry, besok jangan nangis ya, haha.]Juan: [Kalau kamu jujur sejak awal, semua tidak akan begini.]Nomor tak dikenal: [Kamu hamil dari siapa? Aaron? Atau satpam?]Aku segera mematikan layar. Tanganku bergetar lagi.Pada saat itulah, pintu kamarku diketuk pelan. Aaron tidak masuk, hanya bersandar dari luar.“Sherry,” panggilnya, suaranya rendah, tak memaksa, “kalau kamu tidak bisa tidur, aku ada di sini, malam ini aku tidak akan ke mana-mana."Itu kalimat yang seharusnya sederhana. Tapi bagiku, itu hampir terdenga
Terakhir Diperbarui : 2025-11-22 Baca selengkapnya