Semuanya berubah sejak Aaron datang ke rumah, ibu memang tidak mengomel tapi dia semakin protektif dengan caranya sendiri. Pagi-pagi, ponselku sudah ada di meja makan, sebelum aku bertanya kenapa, ibu sudah bicara dengan nada tegas. “Mulai sekarang, ponsel ditinggal di rumah,” ucapnya sambil menuang teh, suaranya datar. “Tidak ada alasan.” “Tapi, Bu, aku perlu—” “Tidak,” potongnya singkat. “Kamu tidak perlu apa pun selain pulang tepat waktu, Sherry.” Ibu semakin ekstrem mengawasiku, jam pulang ditulis di papan kecil dekat kulkas. Nama Kaiser dicoret, diganti dengan jadwal ibu sendiri. Aku tidak diantar lagi, tapi aku dijemput. Aku benar benar harus berangkat dan pulang kuliah tepat waktu. Di dalam rumah, pintu kamarku tidak pernah benar-benar tertutup, bahkan tidurku tidak lagi privat. Suatu malam aku terbangun dan mendapati pintu kamarku terbuka sedikit, dan aku melihat bayangan ibu berdiri di sana, mengawasi. Aku menarik selimut sampai ke leher, jantungku berdegup liar.
Terakhir Diperbarui : 2026-01-06 Baca selengkapnya