Mereka saling bertatapan tanpa suara, membuat suasana canggung.Namun untungnya, Kaiser tampak mengalah lebih dulu, dia bangkit sambil menghela napas panjang."Hah, sepertinya aku sudah terlalu lama di sini. Sherry, aku pamit ya?"Keheningan di ruang tamu akhirnya pecah ketika Kaiser pamit. Ia tidak banyak bicara, hanya menatapku sekali lagi sebelum melangkah keluar. Tatapan itu tenang, tapi di baliknya ada sesuatu yang membuat dadaku terasa sempit.Begitu pintu tertutup, udara terasa berbeda.Lebih berat.Aaron berdiri kaku di tempatnya. Rahangnya mengeras, tangannya masih mengepal seolah ia menahan sesuatu yang ingin keluar tapi tak boleh.“Aku mau ke kamar,” ucapku pelan.Arsion mengangguk. “Istirahatlah.”Aku berbalik, melangkah ke lorong. Namun sebelum aku sempat menutup pintu kamarku, langkah cepat menyusul dari belakang.“Sherry.”Aku menoleh, melihat Aaron berdiri di ambang pintu, matanya gelap, penuh emosi yang sulit kubaca: marah, cemburu, takut… dan sesuatu yang lebih dalam
Last Updated : 2026-01-12 Read more