Share

243. Kaiser vs Aaron

Penulis: Lil Seven
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-19 21:32:26

"Pergi tanpa penjelasan. Aku tak suka kamu melakukan ini."

Ucapan Aaron membuat aku tersenyum sinis dan menjawab, "Bukankah hobimu melakukan ini, Kak?"

Aaron terdiam sehingga aku mengangkat koper.

“Aku harus berangkat.”

Ia refleks meraih pergelangan tanganku dan menggeleng, “Tunggu.”

Sentuhan itu membuat jantungku bergetar, tapi aku tidak berhenti.

“Kita belum selesai bicara,” katanya, suaranya lebih rendah, lebih mendesak.

Aku menatap tangannya di lenganku. “Justru karena kamu tidak bicara, aku pergi.”

Aku menarik tanganku perlahan, melepaskan diri.

Dan melangkah keluar kamar.

Di belakangku, terdengar suara langkah cepat.

“Sherry!” panggilnya.

Aku tidak menoleh.

Tangga, lorong, pintu depan—semuanya kulewati dengan satu napas panjang.

Di luar, sebuah mobil sudah menunggu.

Dan di dalam rumah itu, seorang lelaki akhirnya berlari mengejar… takut kehilangan, tapi terlambat menyadari apa yang seharusnya ia jaga sejak awal.

***

Langkahku baru dua anak tangga ketika pintu dep
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (11)
goodnovel comment avatar
retno pujiati
nunggu tamat aja lah br tk lanjutin,
goodnovel comment avatar
dahru bunyaniah
sama ak jg capek kak...perasaan muter2 jalan ceritanya...minggat2 wae
goodnovel comment avatar
Evi Widayanti
Sherly bingung, Aaron bingung, penulisnya pun bingung pembacanya lebih bingung ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   249. Tipu Daya

    Aresh melihat semuanya. Melihat bagaimana Sherry membeku di depan pintu ICU. Melihat tangannya yang sempat terangkat, lalu perlahan jatuh kembali saat melihat pemandangan di dalam kamar. Melihat bahunya yang gemetar, napasnya yang terputus-putus, dan mata yang mulai berkaca-kaca saat ia menyadari siapa yang duduk di sisi ranjang Aaron. Dan ketika Sherry akhirnya berbalik, menunduk, lalu berjalan cepat menjauh dari pintu itu—langkahnya makin lama makin goyah hingga berubah menjadi lari kecil yang tertahan isak—Aresh membiarkannya pergi. Sherry berlari ke ujung koridor, menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya terguncang oleh tangis yang ia tahan sejak di kampung, sejak di mobil, sejak kabar itu diucapkan. Aresh tidak mengejar. Ia menunggu beberapa detik, memastikan Sherry sudah cukup jauh, lalu menghembuskan napas perlahan. Bukan dengan iba, melainkan dengan senyum tipis dan dingin. Dan penuh kepuasan yang tak pernah ia akui bahkan pada dirinya sendiri. “Seperti

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   248. Sakit

    Aku tak tahu harus jawab apa, untungnya Aresh melangkah maju, berdiri sedikit di depanku, posisinya protektif—seolah secara naluriah menutupiku. “Proyek akhir mata kuliah Metodologi Penelitian, Bu,” katanya tenang, nyaris tanpa jeda. “Kelompoknya harus presentasi langsung di depan dosen pembimbing. Kalau Sherry tidak hadir, nilainya bisa gugur. Deadline-nya dimajukan mendadak karena ada audit kurikulum.” Nada suaranya datar, profesional, terlalu rapi untuk dicurigai. Ia bahkan menyebutkan nama dosen, kode mata kuliah, dan jadwal seolah semua itu fakta yang sudah lama ada. Ibu terdiam, menimbang. Lalu mengangguk pelan. “Oh… begitu. Ya sudah. Kalau memang sepenting itu.” Aku menelan ludah. Dadaku masih berdebar, tapi rasa lega tipis menyelinap karena kebohongan itu diterima. Aresh melirikku singkat, seakan berkata: tenang, sudah beres. Perjalanan ke kota terasa seperti mimpi yang berjalan sendiri tanpa kesadaranku ikut serta. Aku duduk di kursi penumpang, menatap jalanan yang me

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   247. Aaron, Kenapa?

    “Kabar buruk apa?” tanyaku dengan suara nyaris tak keluar. Aresh tidak langsung menjawab. Tangannya tiba-tiba meraih pergelangan tanganku, menggenggam erat seolah takut aku akan jatuh. Telapak tangannya dingin, gemetar—pertama kalinya aku melihat kakakku setegang ini. Ia menunduk sedikit, mendekat ke telingaku, dan berbisik dengan napas yang tidak stabil. “Aaron… sekarang di ICU,” ucapnya dengan suara lirih. “Dia tertembak.” Dunia seolah berhenti berputar saat mendengar ucapan Aresh. Aku menatap wajah Aresh, berusaha mencari tanda bahwa ini hanya lelucon buruk, kesalahpahaman, atau mimpi yang belum sepenuhnya pudar, tapi sorot matanya terlalu nyata. Terlalu panik dan terlalu serius untuk dipungkiri. “T-tertembak…?” bisikku dengan bibir bergetar. Kata itu terasa asing, tidak masuk akal, seperti milik dunia lain. Tanganku refleks mencengkeram balik lengan Aresh. Napasku mendadak pendek, tidak teratur. Kepalaku kosong, benar-benar kosong, seolah semua pikiran ditarik paksa

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   246.

    Aku tidak membalas satu pun pesan itu.Ponsel masih kugenggam, layar sudah gelap, tapi dadaku belum juga tenang. Jantungku berdetak terlalu cepat, seolah aku baru saja berlari jauh—padahal aku hanya duduk diam di tepi kasur.Aku membohongi diriku sendiri jika mengatakan pesan-pesan itu tidak berpengaruh.Setiap kata Aaron masih terpatri jelas di kepalaku. Cara dia memohon. Cara dia mengaku salah tanpa membela diri. Cara dia mengatakan aku mencintaimu seolah itu satu-satunya kebenaran yang ia punya sekarang.Aku menutup mata, menghela napas panjang.“Aku bodoh,” gumamku pelan.Bodoh karena masih berdebar.Bodoh karena hatiku masih bereaksi.Bodoh karena di antara semua kekacauan itu, satu hal tetap tidak bisa kupungkiri—Aku masih mencintainya.Kesadaran itu datang pelan, tapi menghantam. Bukan cinta yang manis atau penuh harap. Cinta yang melelahkan, yang penuh luka, yang seharusnya sudah lama kulepaskan. Tapi entah kenapa, ia masih di sana. Bertahan. Membandel.Aku berbaring, memungg

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   245

    “Sherry?” suara ibu memanggil lagi, lebih pelan tapi justru lebih menekan. “Jawab ibu.”Aku membuka mulut—lalu menutupnya kembali.Tidak ada satu pun kata yang terasa cukup jujur, atau cukup aman.Ibu menatapku lama, seolah menunggu keajaiban. Ketika keajaiban itu tidak datang, ia menghela napas tajam. “Masuk kamar,” katanya akhirnya. “Kamu butuh berpikir.”Aku tidak membantah. Kakiku melangkah menjauh dengan perasaan campur aduk, meninggalkan ruang makan yang masih dipenuhi keheningan canggung. Saat pintu kamar nenek—yang sekarang kupakai—tertutup, barulah aku bersandar di sana, membiarkan tubuhku melorot perlahan.Dadaku sesak.Aku menatap langit-langit kayu yang sudah kusam, mencoba mengatur napas. Kata-kata ibu berputar-putar di kepalaku, saling bertabrakan.Kaiser kurang apa?Aku memejamkan mata. Justru itu masalahnya. Kaiser tidak kurang apa-apa. Dia hadir tanpa memaksa, menjaga tanpa mengikat, mencintai—kalau memang itu cinta—tanpa menuntut balasan. Sosok yang selama ini selalu

  • Tiga Kakak Tiriku yang Menggoda   245. Kaiser Kurang Apa?

    Kaiser menyetir dengan tenang, dua tangannya mantap di setir. Sejak kami meninggalkan rumah tadi, dia tidak banyak bicara. Tidak menanyakan apa pun, tidak memaksaku menjelaskan. Sikapnya itu, entah kenapa justru membuat dadaku terasa sesak.“Kalau capek, tidur saja,” ucapnya setelah terdiam beberapa lama, suaranya rendah, nyaris tenggelam oleh suara mesin.Aku menggeleng dengan pandangan masih menatap kosong ke luar jendela.“Nanti saja.”Dia melirik sekilas, lalu kembali fokus ke jalan. Tidak ada rasa ingin tahu berlebihan di matanya. Tidak ada tuntutan. Kaiser selalu seperti itu, memberi ruang, bahkan ketika aku sendiri sedang kacau.Perjalanan memakan waktu berjam-jam. Saat mobil memasuki gerbang kampung, langit sudah berwarna jingga keemasan. Bau tanah basah dan suara jangkrik menyambut, membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.Rumah nenek masih berdiri seperti dulu, sederhana, dengan teras kayu dan pot-pot bunga yang dirawat dengan penuh kesabaran. Begitu mobil berhenti, pintu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status