Sherry terdiam, napasnya mulai tidak beratura, sedang Jayden tersenyum, kali ini dengan ekspresi puas. “Itu semua cuma topeng,” ucapnya santai. Kalimat itu menghantam lebih keras dari tamparan.l, sehingga Sherry menatapnya tak percaya. “Topeng…?” ulangnya lirih. “Ya,” jawab Jayden tanpa ragu. “Topeng yang aku pakai supaya kamu percaya. Supaya kamu merasa nyaman. Supaya kamu…” Jayden berhenti sejenak, lalu tersenyum tipis, “…jatuh cinta.” Air mata akhirnya jatuh dari mata Sherry. “Kamu, kamu bohong…” bisiknya. Jayden mengangkat bahu ringan, tak peduli dengan ekspresi Sherry yang benar-benar shock mendengar ucapannya. “Kalau itu membuatmu merasa lebih baik, silakan percaya begitu,” ucapnya. “Tapi kenyataannya, kamu memang semudah itu dibohongi.” Sherry mengepalkan tangannya, dadanya naik turun menahan emosi. “Jadi semua yang kita lalui…” bisik Sherry, suaranya bergetar, “…itu tidak pernah berarti apa-apa?” Jayden tidak langsung menjawab. Ia menatap Sherry beberapa
Mehr lesen