Pagi di Desa Cemara selalu datang dengan cara yang tenang. Udara dingin menyentuh kulit, angin berdesir pelan di sela-sela daun jati, dan matahari muncul perlahan di balik pepohonan. Dari dapur rumah Wijaya, asap tipis mengepul dari tungku kayu, membawa aroma kopi dan masakan desa yang hangat. Pak Suroso duduk di teras rumah, menikmati rokok kretek lintingannya. Usianya sudah enam puluh tahun, tubuhnya mulai renta, tapi matanya masih tajam. Dari tempat duduknya, ia memandangi kebun kopi yang terbentang hingga kaki bukit—tanah yang telah ia rawat puluhan tahun, seakan menjadi bagian dari hidupnya sendiri. “Bapak, sarapannya sudah siap.” Pak Suroso menoleh. Dewi berdiri di ambang pintu, membawa sepiring nasi hangat lengkap dengan tempe orek, sambal hijau, dan telur balado. Wajahnya terlihat tenang, tapi ada kegelisahan kecil yang tak bisa ia sembunyikan. “Terima kasih, Nak,” kata Pak Suroso sambil mematikan rokoknya. “Bowo di mana?” “Masih di kebun,” jawab Dewi sambil duduk di depa
Last Updated : 2026-02-02 Read more