New York, 59th Street, gedung berlapis kaca menjulang megah menyentuh langit. Di lantai 77, ruang kantor dengan pemandangan menghadap Central Park tampak sunyi, elegan, dan dingin. Di sana, duduklah Reyhan Arsenio Wijaya, pria yang memimpin konglomerasi multinasional hanya dengan satu ketukan jari.Namun sore itu, jemari Reyhan tak sibuk mengetik. Ia berdiri di depan jendela besar, menatap langit kelabu sambil menyentuh cincin pernikahan di jari manisnya.Tak ada seorang pun di luar sana yang tahu… bahwa dia telah menikah.Bukan media, bukan rekan bisnisnya, bahkan staf eksekutif pun tidak. Aurel dijaga, disimpan, dan disembunyikan dari dunia yang bisa melukai. Bukan karena Reyhan malu — tapi karena ia ingin melindungi cinta yang satu itu dari sorotan, fitnah, dan permainan kekuasaan.Tapi segalanya mulai berubah hari itu.“Excuse me, Mr. Wijaya,” kata asistennya melalui interkom. “Pegawai baru bagian komunikasi internasional sudah datang.”Reyhan tidak menoleh. “Suruh masuk.”Pintu t
Terakhir Diperbarui : 2026-01-06 Baca selengkapnya