Elena mengusap tengkuk Riven, yang masih sibuk menangis. "Sudah, Tuan, aku tidak apa-apa," bisiknya. Karena malu dan lelah, Riven kembali duduk di kursinya. Namun, kepalanya masih tertunduk dalam. Ia enggan menatap sang wanita, yang kini terlihat sangat lemah. Biasanya, Elena akan menjadi wanita yang paling ceria, dan orang yang selalu membuat hatinya hangat. Kini, Elena hanya bisa tersenyum lemas padanya. Riven tidak sanggup, rasanya, ia memang tidak pantas menjadi seorang pria untuk wanitanya. Elena dibantu minum oleh Gez, kondisinya sudah jauh lebih baik. Namun, pikirannya masih kacau dengan ingatan malam itu. Saat melihat Jay di gendongan Alan, ia mengode pada pria itu untuk memberikan Jay padanya. Anak itu benar-benar seperti ayahnya. Jay masih menunduk, memainkan jari-jari kecilnya di pangkuan Elena. Elena yang mampu merasakan perasaan sang anak, mengangkat dagu Jay dengan lembut. "Hei, ini Bunda. Jay tidak rindu pada Bunda?" bisiknya bertanya. Jay langsung memecahkan t
Last Updated : 2025-12-12 Read more