Share

Seksi Sekali

Author: Rucaramia
last update Last Updated: 2026-01-04 14:30:05

Sebagai balasan, Joan menggigit lembut cuping telinga sang wanita dan menyambut dorongan Jiyya dengan geraknya sendiri. Miliknya dibawah sana telah menegang hampir sepenuhnya, panas dan keras, seakan tak sabar lagi. “Apakah kau ingin aku menidurimu, Jiyya?” bisiknya serak, bibirnya masih menyentuh telinga Jiyya, membiarkan kata-kata itu menggantung di antara napas mereka.

Kali ini, ia tak mampu menyembunyikan kebutuhan di dalam suaranya. Ada ketakutan kecil di dada, harapan yang begitu besar dengan jantung berdebar agar Jiyya tak tersinggung oleh pertanyaannya yang terdengar kasar. Joan tak ingin Jiyya mengira bahwa cinta yang dia punya hanya sebatas hubungan fisik semaat. Ia tak ingin wanita itu berpikir bahwa ia hanya memanfaatkannya saja dan membuainya dengan sentuhan. Sebab yang Joan rasa untuknya lebih dari sekadar kata dan sentuhan fisik semata.

Namun untungnya Jiyya sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan yang tak sengaja keluar barusan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Gelora Hasrat Terlarang   Kau Mau Menetap?

    Jiyya bersenandung kecil saat membilas sisa sampo dari rambutnya. Sesekali senyum lugu merekah di wajahnya, begitu cerah hingga ia harus menggigit bibir sendiri agar tidak tersenyum terlalu lebar.Joan membelikannya sebuah sisir. Terdengar konyol, memang. Hanya sebuah sisir. Namun ia benar-benar pergi keluar dan membelinya untuk Jiyya, hanya karena Jiyya pernah mengeluh tak bisa merapikan rambutnya terakhir kali. Ya, moment yang seharusnya menjadi yang terakhir tetapi malah ada lagi moment kebersamaan mereka yang bertambah.Jiyya menggeleng pelan, membuat butiran air memercik ke tirai kamar mandi.Ia seharusnya tenggelam dalam rasa bersalah, dalam sedih dan kecemasan karena telah melanggar tekadnya sendiri untuk tidak lagi tidur dengan Joan. Namun pikirannya, hatinya, seluruh inderanya terlalu dipenuhi oleh sosok pria itu. Yang tersisa hanyalah kebahagiaan dan dorongan kekanakan untuk menjerit girang, dorongan memalukan sulit ia kendalikan.Ia mematikan air dan lagi-lagi senyum itu mu

  • Gelora Hasrat Terlarang   Morning Snack

    “Jo… an, aku harus pergi…” protes Jiyya, meski suaranya terdengar lebih seperti erangan daripada penolakan sungguhan, saat pria berambut hitam itu mendorong pahanya semakin terbuka dan perlahan menjilat pusat kenikmatannya seolah sengaja mengulur waktu sebisa mungkin. “Aku… nghh… harus mandi…”Lidah sang pria menyelinap masuk sejenak, lalu kembali menyusuri titik itu, memancing helaan napas tajam yang tak bisa ia cegah. Jiyya berusaha keras mempertahankan kewarasannya. “Joan… aku harus mandi…” Namun Joan tak mau peduli, pria itu justru mengulangi perbuatannya, dan tanpa sadar jari-jari Jiyya menyusup ke rambutnya. “…sebelum pulang…”“Mm,” gumamnya rendah dibawah sana, lalu menekan lidahnya dan menggerakkannya sepanjang lipatan tubuh Jiyya. “Kau bisa sedikit terlambat…” Suaranya yang dalam bergetar di kulit Jiyya yang sudah terbakar gairah ketika jari panjang pria itu masuk dan melengkung ke atas. “Percayalah.”“Ya Tuhan ahh…” Jiyya terengah, mencengkeram kepala Joan lebih erat, lalu m

  • Gelora Hasrat Terlarang   Seksi Sekali

    Sebagai balasan, Joan menggigit lembut cuping telinga sang wanita dan menyambut dorongan Jiyya dengan geraknya sendiri. Miliknya dibawah sana telah menegang hampir sepenuhnya, panas dan keras, seakan tak sabar lagi. “Apakah kau ingin aku menidurimu, Jiyya?” bisiknya serak, bibirnya masih menyentuh telinga Jiyya, membiarkan kata-kata itu menggantung di antara napas mereka.Kali ini, ia tak mampu menyembunyikan kebutuhan di dalam suaranya. Ada ketakutan kecil di dada, harapan yang begitu besar dengan jantung berdebar agar Jiyya tak tersinggung oleh pertanyaannya yang terdengar kasar. Joan tak ingin Jiyya mengira bahwa cinta yang dia punya hanya sebatas hubungan fisik semaat. Ia tak ingin wanita itu berpikir bahwa ia hanya memanfaatkannya saja dan membuainya dengan sentuhan. Sebab yang Joan rasa untuknya lebih dari sekadar kata dan sentuhan fisik semata.Namun untungnya Jiyya sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan yang tak sengaja keluar barusan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya

  • Gelora Hasrat Terlarang   Kau Pembohong yang Buruk, Jiyya

    Ketika akhirnya pintu terbuka, ia mendapati sosok Joan yang hanya mengenakan kaos tanpa lengan dengan celana olahraga biasanya. Ia tidak mengatakan apapun, hanya memberinya senyum miring sembari mengulurkan tangan untuk meraih pinggang Jiyya dan menarik wanita itu masuk ke dalam apartment-nya.Seolah waktu berhenti ketika ia membiarkan pria itu menuntunnya masuk ke dalam, dan ia nyaris tidak mendengar bunyi lembut dari pintu yang ditutup oleh sang tuan rumah di belakangnya ketika tangan pria itu telah melingkar manis dipinggang dan menariknya dalam sebuah ciuman yang membuat ujung kakinya melengkung.Tatkala bibirnya menyentuh bibir Joan saat ia pikir tidak akan pernah merasakannya lagi, wanita itu mendesah lega dan lengannya secara otomatis melingkari leher sang lelaki dengan tubuhnya yang memanas sementara hatinya diliputi oleh kebahagiaan bercampur rasa bersalah yang ia rasakan sebelumnya ketika mereka masih di pub.Rasanya begitu tepat jika Jiyya bersamanya, meskipun pikiran itu j

  • Gelora Hasrat Terlarang   Tarik Ulur

    Malam itu berlalu begitu cepat karena sebagai besar telah semakin mabuk, dan sebelum ia menyadarinya. Jiyya sudah berdiri di luar pub bersama Joan, menyaksikan Dean berusaha keras agar tidak tersungkur ke jalanan saat dipapah oleh istrinya. Juga sang pemilik pesta yang saling berangkulan bahu dengan yang lain sembari bernyanyi dengan keras tak peduli suara mereka yang sumbang.Jarvis dan istrinya yang tidak begitu mabuk melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan dan pulang beriringan, diikuti oleh Silvana dan Leon (yang sedikit lebih ekspersif saat mabuk daripada saat sadar) adalah yang terakhir pergi, tetapi tidak sebelum si pirang memeluk Jiyya dan mengatakan omong kosong soal dia yang mencintainya dan mendukung Jiyya apapun pilihan yang ia ambil.Jiyya yang sejatinya tidak terlalu sadar seratus persen hanya membalas dengan senyum simpul saat Leon menyeret istrinya yang berlebihan itu untuk pulang bersama. Dan setelah semua keributan itu, kini hanya ada ia dan Joan saja disana. Be

  • Gelora Hasrat Terlarang   Mencari Celah

    Lebih dari seminggu telah berlalu sejak terakhir kali Jiyya melihat Joan. Sejak ia sendiri mengatakan padanya bahwa mereka tidak bisa terus bersama. Keputusan itu didasari atas kebahagiaan Luna, dan itu adalah hal yang wajar bagi seorang ibu untuk melakukan apapun demi anaknya. Hanya saja, sekarang ia jadi sangat merindukan pria itu. Bahkan sampai dititik penuh pengharapan bahwa pria itu akan muncul dimana pun ia berada seperti kebetulan-kebetulan yang pernah ia alami.Meskipun yang sekarang, Jiyya sendiri tahu bahwa ia sengaja mencari celah demi bisa berjumpa dengan Joan dengan cara menghadiri acara salah satu kenalannya yang dirayakan di pub. Meskipun memang sangat tidak adil baginya untuk bisa mengharapkan keberadaan Joan, saat ia sendiri telah berkeputusan untuk mengakhiri.Namun meski begitu keinginan untuk bertemu jauh lebih kuat dibandingkan seluruh logika manapun. Dan itu sangatlah menyebalkan.Jiyya pun menghela napas.Joan barangkali tidak akan datang. Ia mungkin tidak akan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status